Cerita Persalinan (Symphony) di Inggris

6 October 2018

Hari ini Nyo masih sigap mengantar Rhapsody untuk tampil bersama Murangkalih group untuk perform gerak-lagu anak di acara IKON-SOAS. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan as always, my Rhapsody enjoyed the performance dan tampil dengan baik. Tuh, lihat lucu-lucu dan bagus ya anak-anak perform dengan kostum tradisional Indonesia, mempromosikan budaya dan lagu Indonesia.

Tak terasa, sedari tadi siang seperti keluar rembesan air. Tapi Nyo pikir itu biasa saja…. Sampai sedikit-sedikit tapi kok kontinu? Akhirnya, atas saran teman-teman dan keluarga, sepulangnya dari acara tersebut harus periksa ke RS, takutnya ketuban pecah.

Malamnya, setelah telp ke unit Maternity RS Nyo memberanikan diri untuk datang ke assessment unit. Sampai detik itu masih yakin bahwa cairan rembes itu hanya kencing biasa, bukan air ketuban karena tidak terlalu banyak dan tidak berwarna. Namun, bidan mengecek apakah itu air ketuban atau bukan, serta memonitor kondisi jantung bayi. Setelah lumayan lama (sampai ketiduran, karena kondisi fetal di cek hampir per setengah jam dan hasilnya di print lalu dibaca oleh dokter yang ruangannya beda – dan sibuk), akhirnya bidan datang membawa hasil.

“It’s positive,” katanya. Aku heran, positif apanya? “Your water has broken.” . Zingg…. Langsung lemas, apalagi bidan menambahkan, “Bayi harus dikeluarkan besok. Maksimal dalam 36 jam setelah pertama kali kamu menyadari air ketuban rembes, harus dilahirkan. Kalau tidak, bisa bahaya karena bayi bisa terkena infeksi sebab air ketuban terus rembes sehingga tidak ada perlindungan. Karena air ketuban mu sudah pecah tapi tidak ada kontraksi, mungkin besok akan kami induksi atau Caesar.”

Glek! Lemas sudah, harapan untuk bersalin normal alami seperti kehamilan pertama langsung sirna. Senam hamil, senam birth ball, pijat perineum, hypno-birthing, latihan pernapasan yang sudah dilatih selama ini untuk bersalin normal, apakah akan berakhir seperti ini? Tapi kemudian ia menambahkan lagi, “Eh tapi karena kondisi janin masih stabil, 12 jam dari sekarang atau jam 8 pagi besok, kamu bisa kesini lagi untuk di assess apakah harus dikeluarkan besok pagi atau tidak.”

Ya, masih ada kesempatan beberapa jam ke depan untuk memunculkan kontraksi. Sepulangnya dari RS, langsung melakukan semua usaha agar kontraksi bisa datang. Sayang, sampai lelah pun masih tidak ada kontraksi.

 

7 October 2018

Pukul 6 pagi, setelah melakukan beberapa usaha mendatangkan kontraksi akhrnya ada kontraksi, sedikit-sedikit, setiap 1 jam, haha… dan sudah ada ‘bloody show’ meski hanya sedikit flek darah yang muncul. Jam 8 pagi saat ke RS, mereka mengecek dan benar ada kontraksi dan hanya setiap 0.5 – 1 jam sekali. Tapi aku berkilah agar bisa menunggu sampai nanti malam, untuk mengulur waktu agar tidak langsung diinduksi atau Caesar saat itu juga. Bidan berpikir lama dan akhirnya berkata, “Hmm.. karena kondisi janin saat ini masih stabil dan kamu sudah ada kontraksi alam sedikit. Baiklah… kami tunggu 12 jam dari sekarang, nanti malam apa pun kondisinya harus segera lahir bayinya! Sekarang kamu boleh pulang tapi kami sarankan jalan 6 jam ya agar kontraksi aktif.”

6 jam? Walah… mikirnya saja sudah capek, apalagi jalaninnya?! Tapi Nyo gembira sebab masih ada harapan untuk meningkatakn frekuensi kontraksi. Akhirnya sepulang dari RS, langsung kita jalan-jalan ke  High St Kensington. Ngider toko, beli-beli baju bayi, dan makan di Nando’s, sambal Nyo terus menyalakan apps pencatat kontraksi. Pokoknya, jangan berhenti bergerak agar kontraksi terus meningkat. Lumayan setelah ngider-ngider, kontraksi jadi per 10-20 menit.

Ya Allah…. Dulu rasanya serem sekali saat kontraksi, tapi sekarang malah ditunggu-tunggu supaya kontraksi datang dengan cepat. Akhirnya target 6 jam jalan-jalan terpenuhi, sore-sore pulang ke rumah untuk beresin hospital bag lagi cek semua perlengkapan dan peralatan ‘perang’) dan istirahat. Namun, setelah istirahat, si kontraksi melemah tidak se-rapat tadi saat jalan, bahkan kadang menghilang. Oh no… L . Tak ambil pusing, aku harus istirahat untuk mengumpulkan energy dan mempersiapkan persalinan nanti malam.

Malam harinya, aku, mas dan mama naik taksi ke RS, Alhamdulillah di rumah ada Papa yang nungguin my Rhapsody (dan antar sekolah besok paginya). Saking dekatnya jarak tempuh taksi dari rumah ke RS, kurang dari 10 menit, selama di taksi tidak ada kontraksi sama sekali. Santai saja, seperti bukan mau melahirkan. Beda banget dengan kehamilan pertamaku, karena di Belanda jarak ke RS lumayan dan harus kesana saat sudah bukaan 5-6, jadi selama dalam taksi dulu ‘tersiksa’ berkontraksi-kontraksi sambil taksi ngebut (kayak di film gituh), turun ke RS juga harus pakai kursi roda. Sekarang mah, jalan santai biasa.

Turun dari taksi, RS sudah gelap dan kosong, karena malam hari (jam 10 malam gitu). Sebelum ke maternity unit, lagi-lagi Nyo berjalan-jalan untuk meningkatkan kontraksi (biar waktu di cek, dokternya bilang ‘oh ini udah ada kontraksi alami yang cukup rapat sehingga tidak usah di induksi’). Intinya, Nyo mengulur waktu agar bisa bersalin normal alami tanpa induksi. Konon katanya kalau diinduksi kan sakitnya dobel, lebih sakit dari kontraksi alami. Mentalku masih menolak dan belum siap.

Setelah Nyo yakin kontraksi alami lumayan rapat (tiap 10-15 menit) dan konstan, akhirnya memberanikan diri datang ke maternity unit. Prosedur pertama adalah lapor ke maternity reception. Dengan langkah tegap (kalau dulu pas kehamilan pertama, sudah di kursi roda dengan muka pucat lemas gara-gara kontraksi bukaan 6), Nyo ke reception menyerahkan semua identitas dsb. Hospital bag sampai maxi-cosi sudah lengkap dibawa, tapi kami diarahkan untuk di assess dulu sebelum ke labour ward.

Ternyata, sebelum ke labour ward ada pemeriksaan yang cukup lama, mulai dari monitor kondisi bayi, cek kontraksi, sampai pada ketiduran, karena harus menunggu dokter keputusannya (alami, induksi atau Caesar). Dokter (yang kebetulan dua-duanya pria, huhu) akhirnya datang setelah berjam-jam menunggu sampai lewat tengah malam. Setelah memberikan saran bahwa harus di induksi, dokter pun ‘pergi’. Jadi, sebenarnya dokter bertugas hanya untuk memberi saran tindakan, semetara semua proses persalinan yang menangani adalah bidan. Untunglah jadi perempuan semua dan bisa lebih leluasa prosesnya…

Karena kontraksi tidak maju-maju, mereka menyarankan harus diinduksi. Aku kira setelah itu kami langsung dibawa ke labour ward untuk di induksi. Tapi ternyata kata bidan, “Sebentar ya, masih menunggu kamar kosong di labour ward.”. Kata ‘sebentar’ itu ternyata lamaaaaa…. Sampai ketiduran lagi kami, sepertinya baru 1-2 jam setelah itu masuk labour ward. Yah, namanya di London, kota besar, pasti semuanya ramai dan nunggu giliran, tidak seperti saat di Belanda dulu, langsung masuk – karena kebanyakn di Belanda pada lahiran di rumah, hehe… Saat masuk area labour ward, dari kamar-kamar yang kami lewati terdengar berbagai teriakan para ibu (sedang kontraksi, sedang mengejan) dan pecah suara tangisan bayi, macam-macam. Semua semakin membuat nyaliku ciut kadang. Tapi… Bismillah…. Perjuangan seorang ibu akan dimulai lagi.

 

8 October 2018

Untuk induksi, diperlukan infus yang akan mengalirkan cairan antibiotic dan obat induksi. Oleh karena itu, bidan menusuk jarum infus di pergelangan kanan ku. Tapi, berkali-kali dicoba tidak berhasil karena pembuluhku kecil. Dicoba ke tangan lain, ternyata masih tidak bisa lagi, sudah sampai biru-biru dan sukses bikin Nyo nangis. Akhirnya bidan menyerah, menunggu bidan senior untuk menusuk jarum infusku. Alhamdulillah…. Setelah dipanggil bidan senior berhasil memasangnya.

Sebelum proses induksi, mereka me-monitor kontraksi alami dan cek bukaan. Ternyata, sudah selama itu, baru bukaan 2. Nyeh! Akhirnya, bidan bertindak untuk memecah ketuban. Oh no… Biasa, setelah cairan ketuban semua pecah, kontraksi jadi semakin kencang. Bidan menawarkan painkiller, “Belum,” sahutku. Akhirnya kontraksi sudah semakin rapat, tapi masih belum kuat menurut mereka. Aku sudah tidak melihat apps pencatat kontraksi ataupun jam. Fokus semua ke kontraksi….

Sekitar pukul 4.40 akhirnya bidan mulai mengalirkan obat induksi lewat jarum infus. Sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan kontraksi yang semakin kuat. Aku pun non-stop menyalakan alpha-wave tune lewat ear-phone agar tetap tenang dan ber-dzikir. Dari kamar labour ward sebelah-sebelah, aku mendengar ibu-ibu yang berteriak histeris kesakitan saat kontraksi. Aku pun merasakan yang sama, tapi sampai menggigl rasanya ku tahan dan saat kontraksi datang langsung, “Allahu akbar!”. Untung bidannya tidak kaget mendengar seruan teriakan jihad ku, hehehe…

Kontraksi dari induksi berlangsung semakin cepat dan benar semakin sakiiitt rasanya, sampai-sampai semua badan dingin dan Rahim terasa pegal-pegal tak karuan. Ubah posisi pun sama, lelah dan pegal, sampai mas memijat pinggang yang sudah tidak berasa lagi. Saat masuk waktu subuh, Mama pun ke mushola untuk sholat subuh sehingga tinggal mas yang menemani. Tiba-tiba, kontraksi semakin rapat mungkin setiap 1-3 menit ya.

Aku tahu ini bukaan belum sempurna, tapi kok sepertinya ada rasa ingin mengejan ya. Aku pun bertanya ke bidan, “Can I push?”. Aku bertanya sebab saat di Belanda, aku dilarang push sampai bukaan sempurna dan dokter datang. Tapi ternyata si bidan jawab, “Of course, just follow your instinct.”. What? Kalau follow your instinct mah pengen langsung dikeluarin aja ini… Begitu kontraksi lagi kuat, langsung Nyo mengejan sambal mempraktekan teknik pernafasan ala penyanyi seriosa :p maksudnya dengan nafas panjang hembusannya. Di saat yang sama, Mama kembali ke ruang bersalin, saat kepala si kecil terlihat keluar, pas sekali! Dua kali push, akhirnya my little girl terlahir ke dunia! Alhamdulillah… wa syukurillah….. Allah lancarkan, mudahkan, dan selamatkan semuanya…

Pukul 4.40 mulai induksi dan pukul 06.01 si kecil lahir, pada usia kehamilan 39 week, 5 hari, dengan berat 2,92 kg dan panjang 47 cm. Ternyata memang cepat ya di induksi itu (masa di laporan dari RS ditulisa labour duration nya 17 menit, perasaan lebih lama deh) tapi Alhamdulillah tidak terlalu lama harus menanggung kesakitan kontraksi induksi.

Alhamdulillah juga seperti persalinan anak pertama, Nyo bertahan tidak menggunakan satu pain-relief. Sampai si bidan bilang, “Wew… you’re hard-core!”. Kalau pas yang pertama memang tidak dibolehkan sama dokter, sedangkan pas yang kedua, entah kenapa mungkin saking cepatnya diinduksi,rasanya baru saja kontraksi mulai loh udah push dan lahiran. Qadarullah…

Begitu lahir, bayi langsung dilap handuk dan ditaruh di atas dada ku untuk IMD. Sementara, para bidan menjahit jalan lahir yang sudah 2nd degree tear. Ini karena mengikuti insting, sudah keluar duluan sementara bukaan belum sempurna. Tapi, yasudahlah…. Stitching is the hardest part after delivery.

Setelah selesai jahit, kami pun sudah harus langsung pindah ke bangsal atau post-natal ward. Aku bingung, “Loh, gak mandi dulu? Mandinya dimana?”. Kukira seperti di Belanda dulu, ada kamar mandi di dalam ruang bersalin untuk ibu mandi sebelum ke ruang perawatan. Ternyata tidak ada dan harus keluar, ke kamar mandi bersama di bangsal perawatan (yang 1 bangsal share ber-8 ibu). Hmmm… Bidan juga berkata pada mas dan Mama, “Tolong bayinya diberesin dulu sebelum keluar.”. Benar-benar tidak siap! Dibandingkan saat di Belanda dulu, bidan yang membersihkan bayi (mengelap, membersihkan meconium/pup-nya), menimbang/ukur bayi, dan memakaikan baju, lalu dikasih sudah rapi. Tapi disini, dengan tekanan waktu (karena mau ada yang masuk lagi pakai ruangan labour ward nya), pendamping bersalin harus mengurus bayinya sendiri tanpa bantuan.

Kagok lah… aku benar-benar lupa tidak menyiapakan untuk meberitahu dimana kapas bulat or wipes untuk membersihkan bayi, dimana aku simpan baju bayi dalam hospital bag, dsb. Belum lagi, mereka sudah lama tidak megang newborn ataupun bayi (karena si sulung sudah usia 5.5 tahun). Apa adanya, kami pun segera pindah ke bangsal perawatan, semua masih kucel, dan masih ada sisa-sisa darah. Sampai disana, langsung cari kamar mandi kosong untuk mandiii….

Setelah itu, tidak dikasih ‘hadiah’ kue kelahiran seperti waktu di  Belanda dulu, tapi langsung kembali ke realita. Yah, dikasih sarapan sih, toast alias dua lebar roti bakar dengan selai dan butter, beserta teh manis hangat.  Karena di induksi, ternyata kami harus stay 24 jam di RS setelah melahirkan. Jadi, lumayan lah, dapat makan 3x sehari ibunya selama di bangsal perawatan. Alhamdulillah juga ada pilihan menu halal…

Tapi, tidak enaknya di bangsal bersama ini, hanya ada satu kursi untuk pendamping. Kebayang kan sempitnya… yang jenguk juga hanya boleh 3 orang maksimum saat jam besuk, sisanya hanya boleh 1 pendamping. Hmmm…. Yah untungnya tidak lama di RS hanya 1 hari, Alhamdulillah…

Selama di RS ada beberapa post-natal check yang dilakukan seperti test hearing, check semua kesehatan neo-natal (dimana bayi nya harus dibawa sendiri ke ruangan sama ibunya, bukan mereka yang datang ke kasur kita), breastfeeding consultation, juga seminar mengenai apa yang harus dilakukan setelah pulang (registrasi bayi, akte, dsb). Selalu ramai rasanya post-natal ward ini sehingga susah istirahat, apalagi bayi masih belum stabil, nangis terus tanpa ada ASI yang keluar. Kalau mau ke toilet, juga harus keluar ward, menyusuri lorong dan cari yang kosong.

DHEM7923

Bersiap pulang dari RS

9 October 2018

Hari ini pagi-pagi kami sudah dinyatakan untuk pulang, tapi masih menunggu hospital discharge notes dari bidan. Sambil menunggu, ternyata ada tukang promosi dari Bounty yang memberikan baby produk pack gratis, juga foto keliling (yang gratis untuk free sample). Kami tergoda untuk memakai foto ala studio itu jadinya… Tapi baby tidak kooperatif, selalu nangis sampai harus berkali-kali fotografer-nya bolak-balik untuk mencoba foto. Saking lamanya, sampai-sampai kami sudah ‘diusir’ bidan dari post-natal ward karena sudah mau dipakai kasurnya mau ada ibu yang masuk lagi. Akhirnya, kita check-out, ke luar ward, lanjut foto dengan baju sekadarnya (memang gak siap sih), sehingga bisa juga photo album untuk kenang-kenangan.

Ini hasilnya…

Hari ini, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-7 kami membawa pulang si ade, Symphony Savir yang lucu dan cantik.. Alhamdulillah.. welcome home, ade!

BCKD3087