Berburu Air Terjun dan Pantai Hitam di Islandia

12-13 April 2018

Iceland memang kaya akan wisata alam, termasuk air terjun. Ada beberapa air terjun di Iceland yang kami singgahi. Setelah dari Geysir, tak jauh dari sana kami sudah sampai ke air terjun pertama, yaitu air terjun Gulfoss (sebenarnya makna kana ‘foss’ adalah ‘air terjun’, dan gul: emas).

Gulfoss, dalam bahasa Islandia berarti air terjun emas – merupakan air terjun ikonik negeri es. Gulfoss adalah salah satu tujuan utama wisatawan ke Iceland. Air terjun ini memiliki dua tingkat curahan air terjun: air terjun yang di atas yang pertama memiliki ketinggian lebih pendek yaitu 11 meter, sedangkan air terjuan tingkat kedua curahannya setinggi 21 meter.

Tebing-tebing disekitar air terjun Gulfoss yang bisa mencapai ketinggian 70 meter tampak masih berselimutkan salju, meski sudah musim semi. Air terjun memiliki energi yang besar sehingga pengunjung juga bisa terkena cipratan airnya. Gulfoss memiliki aliran yang indah dan merupakan air terjun dengan volume curah paling banyak di Eropa.

Namun, air terjun ini tidak difungsikan untuk apa-apa, tidak untuk pembangkit listrik, atau lainnya. Hal ini karena figur berjasa Sigríður Tómasdótti, yang lalu dikenang dengan monumen/tugu atas dirinya di sisi Gulfoss. Sigríður Tómasdótti yang enviromentalis, konon mengembalikan air terjun Golfoss ke tangan warga Islandia untuk dilindungi dari pembelian pihak asing yang ingin menggunakan Gulfoss untuk kepentingan bisnis. Jadi, hingga kini, air terjun Gulfoss tetap alami dan natural.

MaashaAllah… look at this beauty, Sang Maha Indah menciptakannya dengan indah sehingga sejuk dipandang mata.

Di hari ketiga, kami mengunjungi air terjun Seljalandfoss. Berhubung hari ini kami road-trip di sisi selatan Iceland, pasti melewati Seljalandfoss. Air terjun dengan ketinggian 65 meter ini pernah muncul di video klip Justin Beiber, ‘I’ll Show You’. Kita juga bisa berjalan di balik air terjun ini loh… seperti yang dilakukan Justin Beiber di video klipnya.

Tapi, tentu jika kondisi memungkinkan, karena jalur ini sempit, licin, dan berlumpur.
Apalagi saat musim dingin, jalur ini ditutup karena bongkahan es bisa jatuh tiba-tiba.
Meski jalur menantang, tapi turis tetap berlajan di balik air terjun. Jangan lupa memakai sepatu boot yang kuat agar tidak terpeleset.

Hmm… boro-boro mau ke belakang air terjun, mau jalan naik saja sudah tidak berani, selain karena lagi hamil juga jalan setapak sangatlah licin. Belum lagi tangga besi kesana sangat curam… apalagi bawa toddler, wah semakin tidak berani deh ambil resiko. Jadi kita cuman jalan setengah naik, abis itu turun lagi. Mungkin kalau kesana sendiri dan se-fit Justin Beiber, hayyoh aja, hehe… 😀

Tapi, dari bawah juga pemandangannya indah. Di sisi samping juga bisa kita temui air yang mengalir diantara tebing. Sampai-sampai my Rhapsody dapat inspirasi untuk bikin lagu baru dan langsung dinyanyikan sepanjang dia di Seljalandfoss. Yah, bukan cuman Justin Beiber yang bikin video klip disini, my Rhapsody juga, hahaha… ^_^

 

Tak jauh dari Seljalandfoss, adalah air terjun Skogafoss. Jika cuaca cerah, sangat mungkin menemukan pelangi di air terjun. Para turis pun berfoto ria di air terjun berpelangi, indah nian…

Jangan lupa untuk menggunakan jaket tahan air karena percikan air terjun ini sangat kuat, dan tiba-tiba bisa membuat kita basah kuyup! Selain guyuran air terjun yang tiba-tiba bikin kuyup, angin juga bisa bertiup kencang tiba-tiba. Tripod kami jadi jatoh dan pecah bawahnya, hiks… 😦 . Untuk amannya, pakai tongsis saja kalau mau foto bersama, karena permukaannya berbatu-batu.

Nah, ada legenda tentang Skogaffos loh.. Konon, dibalik air terjun itu terdapat harta karun. Sekitar tahun 900, orang Viking yang bernama Þrasi Þórólfsson, menyembunyikan harta karunnya di bawah air terjun Skogaffos. Dan orang pertama yang menemukannya akan kaya raya.

Di antara air terjun, kami juga sempat berfoto di jalan ada patung Puffin, si burung khas yang cuman ada di Iceland.

IMG_9388

Berhubung sudah di Selatan Icelanda, kami juga mampir ke Pantai Hitam atau Reynisfjara. Pantai ini unik karena pasirnya berwarna hitam dan suasananya mencekam. Saat kami kesana, cuaca buruk hujan dan angin kencang. Baru juga sampai, dan membuka pintu mobil, angin sudah bergemuruh. Kami langsung menyiapkan ‘perlengkapan perang’: syal, sarung tangan waterproof, dan kacamata plastik (ganti karena takut kena hantaman kerikil).

Benar saja kan… baru saja turun ke pantai, mata sudah tidak bisa terbuka lama sebab angin kencang menerbangkan kerikil dan pasir, juga air yang terasa tajam. Untuk berjalan di pantainya saja penuh perjuangan karena dorongan angin yang sangat kencang. Kami selalu berpegangan bersama, juga terus menggenggam erat my Rhapsody agar tidak terbawa angin laut yang ganas saat itu. Ia juga terus, “Peluk, Mami.. peluk..”

Kami sudah bersusah payah begitu di pantai, dengan pakaian ‘lengkap’. Ehh.. tiba-tiba ada orang foto pre-wedding dengan baju terbuka, berjalan ke arah laut. Padahal ada larangan tidak boleh sekadar mencelupkan kaki ke air laut karena sangat berbahaya. Welwh…weleh…

Susasana Pantai Hitam ini sangat mencekam, dengan tebing stalagnit heksagonal juga dengan bebatuan tinggi di tengah laut. Rasanya seperti ada hawa-hawa mistis tidak enak. Terus kami membaca do’a, agar selalu dilindungi, juga janin di perut. Kami hanya sebentar disana, karena cuaca buruk (semua sepatu celana kotor ternodai pasir hitam) langsung kembali ke atas.