Akte luar negeri dan catatan sipil

Published October 17, 2013 by vanya2v

Setelah back-for-good dari luar negeri, banyak yang harus diurus agar akte kelahiran anak bisa ‘diakui’ di Indonesia dan masuk ke dalam KK kita. Proses mengurus residens ini sudah dimulai dari di Belanda. Mari kita runut…

A. Akte Kelahiran Luar Negeri

Pertama sekali, tidak lebih dari 3 hari setelah anak lahir, harus segera lapor ke gementhee untuk pencatatan kelahiran. Disini bayi yang baru lahi langsung dapat BSN dan akte kelahiran bahasa Belanda. Jangan lupa untuk meminta akte kelahiran internasional, yang dikenai biaya sekitar 10 EUR. Syarat: tidak ada, langsung saja si bapak-nya datang untuk melapor dan langsung bisa didapat kedua aktenya. Sebagai bonus, kita juga dapat buku ‘Welkom in Enschede’ dari sana dan sebundel paket untuk daftar RIVM (imunisasi), juga RVB untuk toeslag anak (per 3 bulan dapat sekitar 125 EUR)

 

B. Paspor Indonesia

Setelah akte kelahiran di tangan, saatnya untuk membuat paspor Indonesia (untuk yang keduanya WNI) si bayi. Form bisa diperoleh di website kedutaan Indonesia di DenHaag ini: http://imigrasi.indonesia.nl/aplikasi-online/formulir/

Syarat-syaratnya (untuk kedua orang tua WNI)

  • Fotokopi kutipan akte kelahiran anak
  • Fotokopi paspor orang tua (Ayah dan Ibu)
  • Fotokopi akte perkawinan orang tua
  • 1 Lembar pasfoto terbaru anak
  • Membayar biaya pembuatan sebesar € 30. Pembayaran dilakukan dengan PIN
  • Membawa foto copy verblijfsdocument /kartu residensdi Belanda yang masih berlaku dari kedua orang tua
  • Membawa surat keterangan sebagai penduduk di suatu Gemeente (GBA)

Sekitar seminggu, paspor sudah bisa diambil lagi di KBRI Den Haag.

 

C. Mengurus residens permit ke IND
Ini yang lumayan ribet, sebab meskipun bayi baru lahir tapi kalau tidak diurus ke IND, bisa dianggap sebagai stay illegal di Belanda. Setelah diurus, di paspor bayi akan terdapat stiker tanda bahwa si anak legal di Belanda sampai periode 6 bulan setelah submit aplikasi ke IND. Sampai saat ini, sudah 4 bulan lebih setelah submit, residens baru jadi padahal kita semua sudah di Indonesia. Lama banget yah? Hmmm… bingung, gak dapat deh kartunya, buat apa, toh udah tidak stay in netherlands lagi :(

Untuk keterangan lengkapnya, bisa dilihat disini: http://www.ind.nl/en/Residence-Wizard/family/child-born-in-the-netherlands/Pages/default.aspx

Form yang dipakai (jika yang mengisi ini adalah sponsor alias salah satu orang tuanya) –> http://www.ind.nl/Klant-informatie/Documents/7518.pdf (as a child to stay with parents)

Syarat – syarat yang diperlukan:

- Fotocopy semua halaman (termasuk cap-cap) dari paspor orang tua, bolak – balik kartu residens permit orang tua

- Fotocopy paspor si anak (yang akan dibuatkan residens permit IND)

- Ekstrak dari akte kelahiran si anak. Ini bukan sekedar fotocopy biasa, tapi copy yang dikeluarkan dari gemeente. Namanya uittreksels, kertasnya lebih bagus dan sudah dilegalisir (cap+TTD) Gemeente.

Untuk men-submit semua dokumen tersebut, kita harus bikin janji dulu ke salah satu loket IND terdekat dengan kota kita. Setelah itu, bawa anak serta kesana untuk foto dan konfirmasi.

Biaya: 250 EUR (dibayar dnegan PIN)

Proses memakan waktu 3-6 bulan. Ha! >.<

 

D. Legalisir Dokumen

Salah satu syarat agar akte lahir LN bisa diterima di Indonesia, adalah akte harus dilegalisir di KBRI (karena untuk khusus kelahiran di Belanda, tidak ada surat keterangan lahir dari RS dan surat keterangan lahir dari KBRI) dan departemen luar negeri Belanda.

- Legalisir departemen luar negeri di Den Haag

Ini webnya: http://www.government.nl/ministries/bz/contact

Bisa langsung datang (09.00 – 11.30), bawa dokumen yang mau dilegalisir. Setelah ambil antrian, dalam 15-30 menit sudah langsung jadi dan bisa diambil.

Biaya: 10 EUR/dokumen

- Legalisir KBRI Den Haag

Langsung bawa dokumen ke bagian Konsuler, letaknya di lantai 2. Bisa ditunggu dan langsung jadi, asal datang sebelum jam 12.

Biaya: 20 EUR/dokumen (pakai PIN)

 

E. Lapor ke Catatan Sipil

Untuk di Jakarta, Dinas Kependudukan dan Catatan SIpil berlokasi di jalan S.Parman. Disana langsung ke Loket ‘Pencatatan Kelahiran Luar negeri’.

Syarat-syarat yang dibawa (+fotocopy):

1. Buku nikah orang tua

2. Paspor orang tua dan anak

3. KK

4. Akte kelahiran dalam bahasa asli (yang sudah di legalisir DepLu Belanda + KBRI Belanda)

5. Akte kelahiran dalam bahasa Indonesia (yang sudah diterjemahkan tersumpah –> bisa di Pak Herman, JL. DR.Saharjo No.39

Sekitar 1-2 minggu, sudah jadi dan bisa diambil dengan membawa bukti tanda penyerahan dokumen.

 

F. Lapor ke Kelurahan

Ini dilakukan jika inging menambah data anak ke dalam KK orang tua. Yang perlu dibawa:

- Surat pengantar RT/RW

- KK lama

- KTP orang tua

- Surat tanda Pelaporan Kelahiran Luar Negeri yang sudah dikeluarkan oleh Catatan Sipil

 

Kira – kira begitulah runtutan proses pencatatan dan pendataan dari anak mulai lahir di Belanda, sampai bisa terdaftar di Indonesia (N.B: menurut peraturan yang berlaku per Oktober 2013 ini).

Huffh…. panjang juga yah, semoga membantu..  :D

Radva’s first flight

Published September 19, 2013 by vanya2v

We – I mean me and Radva – harus meninggalkan Nederland.

So sad, sebab residens MakNYO habis, padahal mas masih extend tesis. Residens Radva malah belum jadi. dan makNyo pulang dengan ketidakpastian menunggu work permit yang masih kayak ‘digantung’. Iya sih Alhamdulillah udah dapat offer, tapi masih menunggu proses work permit untuk non-EU susyah banget, harus nunggu minimal 10 week, itu juga belum tentu diterima ato gak pengajuan permitnya. Huhuhu… #curcol

Saatnya pulang, a long flight for Radva. Semua perlengkapan seperti tas bayi berisi selimut, mainan2, tissue basah, pampers, empeng, dsb, sudah siap. Untungnya gak perlu bawa – bawa susu, tinggal pakai celemek dan bisa setiap saat deh nyusuin di atas pesawat, hehehe… Well, the hardest thing for him mungkin berpisah dengan papi-nya, heuu… and still dunno when will we meet again :(

Sebenarnya bayi udah bisa dibawa pesawat kok, meskipun amanya >2 bulan. Saat itu pas Radva 4.5 bulan dengan long flight hampir 20 jam. Untung transit di tengah2 nya, kalo gak, puyeng deh… O__O

Alhamdulillah dapat seat dengan baby bassinet sesuai pesanan Etihad-nya. Namun, ternyata baby bassinet ini max.hanya bisa nampung bayi 10 kg. Radva pas itu hampir 8 kilo dan kelihatan kesempitan di dalam. Bassinet ini juga tidak boleh digunakan saat take off, landing, dan saat ada turbulensi. Saat flight pertama, dari Amsterdam ke Abu Dhabi, Alhamdulillah Radva anteng bobo aja dalam bassinet, soalnya memang jadwal dia bobo. Tapiiii…. pas flight kedua dari Abu Dhabi ke Jakarta, hwaaahh… lumayan rewel. Gak mau di dalam bassinet, karena ngerasa sendirian. Jadi ajah, dipangku deh sambil nonton/main game.

Untuk pas take off/landing, sebenarnya sangat direkomendasikan agar bayi sambil disusuin atau ngempeng. Ini bertujuan supaya telinganya gak ‘budhek’, ‘kan dia menelan terus. Sayang, tiap take off dan landing, radva malah bobo terus. Jadinya MakNyo make-in Earmuff (BabyBanz) agar telinganya gak terlalu kena efek perbedaan tekanan itu. Semenjak dipakein earmuff itu, karena ada noise cancellation-nya, radva jadi semakin pules bobo.

Radva in the plane. Atas: dalam bassinet Bawah: stroller Etihad dan pakai Earmuff :)

Radva in the plane.
Atas: dalam bassinet
Bawah: stroller Etihad dan pakai Earmuff :)

Saat flight kedua, Radva sempat pup. Tapi gak berani ah ganti di toilet meskipun ada baby changing table-nya. Karena selain keras, juga takut tiba – tiba turbulensi. Berhubung Maknyo suka ‘rada-rada’ kalo gendong, takut malah kepleset nanti. Jadi, ganti pampersnya di bassinet nya aja, heheh.. :p

Saat transit di Abu Dhabi, make stroller yang disediakan Etihad. Ternyata comfy juga, bisa disenderin sampai datar, sehingga bayi yang mungil juga bisa kok make. Stroller baru diambil di bandara Cengkareng. Sayang ada komponen yang hilang, tapi yasulah… tapi mostly sih Alhamdulillah ‘selamat’ karena begitu keluar pesawat kita tungguin di belalai gajahnya.

Calslaan Memory

Published September 19, 2013 by vanya2v

31 August 2013

this is the day when we left our first house..

so sad, but we’ve reached the maximum contract (2 years)…

we had to move :(

bubye house… bye bye bebek – bebek..

bye bye lapangn bola dan hutan hijau di belakang rumah, halaman rumah terluas yang pernah kupunya :p

bye bye danau samping rumah

bye bye balcony lantai 3

bye bye fresh air

…lots of memories in calslaan 55-31, esp.in our first years.. :)

ya Allah, semoga setelah ini semuanya menjadi lebih baik and we’ll a find much..much..much better house and living.. :D

aamiin…

 

Moved out pake bakfiet :0

Moved out pake bakfiet :0

Babyconcerten

Published September 19, 2013 by vanya2v

Grachtenfestival – pekan musik klasik di Amsterdam!
Wew, asik banget! Nyo milih-milih, mau nonton konser apa ya?? Eh, tapi bingung euy, si radva mau dikemanain nih kalo MakNYO nonton? Masa dibawa – bawa? Tapi kalo ditinggal, kan dia gak bisa lepas dari pabrik susu =,=; .Heuu…

Depan Compagnie teather

Depan Compagnie teather

Ternyata, usut punya usut, ketemua konser yang bisa bawa bayi, bahkan HARUS bawa bayi! Yep, baby-concerten! Jadi ini konser khusus untuk penonton bayi usia 4 – 14 bulan. Radva umur berapa, ya 4 bulan, pas lah paling kecil, hehe.. Tiketnya 10 EUR untuk bayi dan pendamping.

Sampailah kita di het Compagnietheater. Pagi itu teater dipenuhi bayi – bayi yang berdatangan.  Sebelum konser, masing – masing bayi diberi stiker nama masing – masing. Sempat ketar – ketir, kira – kira nanti radva nangis gak ya pas konser, kan dia belum pernah denger makNyo maen biola langsung :p . Sayang GAK boleh ambil foto/video selama konser berlangsung, cuman boleh setelah konser selesai.\

 

Pintu teater pun dibuka, para ibu – ibu baris masuk sambil menggendong bayinya. Satu – satu bayi disambut dengan nyanyian, “Welcome Radva….,” senandung si penyanyi. Para musisi juga menyambut kami dengan alunan musiknya. Kita duduk melingkar di atas bantal sambil memangku bayi. Setting-nya dibuat ramah bayi dengan lampu temaram dan arena khas playground.

Di tengah, sang vokalis menyanyi sambil memainkan instrumen – instrumen dengan bebunyian unik dan melakukan gerakan atraktif bagi bayi. Sementara, para musisi, violinis, violis, cellist, flutist, dsb semuanya melingkari penonton. Aaahh… senang sekali, lagu – lagu klasik terus dimainkan dalam durasi 30 menit itu.

Dalam durasi itu, si vokalis terus mengajak bayi untuk menikmati musik. Lucunya bayi – bayi yang sudah bisa merangkak/berjalan, itu ke depan karena penasaran dengan alat – alat unik penghasil bunyi, terus ingin memainkannya. Hahahaha… belum lagi bayi yang tiba – tiba kesal/kaget dan menangis. Bayi di sebelah juga menangis gara – gara di datengin bayi merangkak terus mengambil empengnya, howaaa… Ricuh kadang, nangis di sana – sini.

Lucunya lagi, pas di satu lagu, sang vokalis membagi – bagikan marakas untuk bayi. Si Radva bukannya ngambil dan memainkan kecrek – kecrek marakas, malah diambil langsung di emut… Eeeiiyy, ini Maracas, bukan lolipop! =,=;

Bayi… bayi… banyak lah benda – benda atraktif yang dipakai/dibagikan selama konser biar bayi gak bosen. Daaaann… selama 30 menit berlangsung Alhamdulillah radva anteng. Tapi, setelahnya, pas udah boleh foto – foto, eeehh…. malah dia NANGIS – nangis teruss!! gara – gara sudah waktunya nyusu, huhuhu… si ibu vokalis mencoba menenangkan dan menghibur pakai kecapi besar, tapi percuma, Radva tetap nangis. Ya iyalah kalo uda laper gak ada yang bisa ‘menjinakkan’nya selain ASI :))

Jadi aja deh gak ada foto pas di konser yang bagus, huehuhuhu.. TT___TT

After the concert - mewek :(

After the concert – mewek :(

Holland Holiday

Published September 19, 2013 by vanya2v

Kinderdijk (14/08/2013)

Jadi ceritanya, habis makNYO interview kerja di Leerdam, pengennya sekalian bisa jalan2 pake DagKaart ke Kinderdijk. Meski udah 2x ke ZaanseSchans, tapi belum pernah lihat kincir angin di Kinderdijk. Rutenya, dari stasiun kereta Rotterdam Lombardijen , naik bus no.90 ke Kinderdijk, lumayan lama 45 menit. Malah kita sempat salah jalur, jadi harus nunggu bus-nya yang cuman ada setiap 1 jam! :( . Harga tiket bus nya mahal juga, one way 6 EUR, hiks…

Sampai disana, cuaca sangat gerah dan malah mampir minum yang segar – segar dulu. Deretan molen alias kicir angin sudah menyambut di hamparan ilalang dan danau. Kita menelusuri jalan  di tengah – tengahnya. Agak jauh, meskipun gak sampai ujung jalannya, sebab kurang menarik. Jika dibandingkan dengan Zaanse schans, kayaknya Kinderdijk terlihat ‘polos’, hanya padang ilalang tanpa wahana seru seperti visit pembuatan keju/clog atau bangunan-bangunan unik. Tapi ya lumayan juga lah buat iseng – iseng, hehe… ‘kan Radva belum pernah lihat kicir angin nih.

Kinderdijk

Kinderdijk

 

 

Madurodam (22/08/2013)

Paginya mberesin urusan ke Kemenlu Nederland dan KBRI buat legalisir akte kelahiran Radva (untuk kepentingan daftar ke catatan sipil di Indo). Setelah ketar – ketir karena harus turun di Amersfoort gara – gara tiket DagKaart Blokker yang gak valid (soalnya kita gak ngerti itu pake chip dan harus di in/uit-checken, bukan di stempel doang kayak biasa, huhuhu…), sampai juga di Den Haag sebelum kantor-kantor itu menutup loketnya.

Yang bikin sebel juga, stasiun kereta Den Haag CS ini dari tahun 2011 (April), masih aja dibangun – bangun, kok belum selesai – selesai sih?? Jadi kita repot banget nyari dimana tuh letak trem dan stasiun bus? Akhirnya, demi mencapai KBRI, harus angkut – angkut stroller naik tangga yang curam untuk sampai ke stasiun bus yang letaknya di atas stasiun kereta, hossshh…. untung ada Ade, kalo gak, gak kuat deh…gak ada lift getohh  >.<  (kalo ke stasiun tram, ada lift)

Akses ke Madurodam, bisa dengan Tram nomor 21, salah satunya, yang ke arah Scheveningen beach. Akhirnya sampai juga di Madurodam, for the 2nd time. Sekarang sistemnya sudah baru dan bagus, masuk – masuk (dengan harga tiket 15 EUR untuk dewasa) kita dikasih card yang ada chip-nya. Jika kita registrasi email, card itu bisa nge-rekam aktivitas kita di Madurodam sepanjang card itu kita ‘tap’ di tiap atraksinya. Beda, pas tahun 2011 untuk menjalankan satu atraksi, kudu pake coin, baru deh bisa main.

Madurodam

Madurodam

Wahana dan miniatur-nya juga banyak yang baru, seperti pantai mini, miniatur taman bermain, miniatur concertgebouw dan cara jadi stage manager yang mengatur jalannya pertunjukkan, miniatur corps museum, dan… ini nih yang seru, mainan Panorama madurodam. Jadi, kita berdiri di dalam lingkaran, berpose seperti terbang dan hasil video-nya langsung dikirimkan oleh madurodam ke email kita, ini niah kalau mau lihat MakNYO dan Radva terbang keliling Belanda :p

Sementara kita cuman jalan – jalan sebentar di Centrum Den Haag, hanya ke Binnenhof dan sekitarnya. Maklum, setelah bawa bayi kok jadi males banget jalan – jalan. Apalagi sama bayi yang nyusu tiap 2 jam/kurang, hehehe…. :p . Radva disana merepresentasikan bendera Indonesia diantara banyak bendera, dengan kostum merah-putih. Hormat grak! :D

 

Amsterdam (23/08/13)

First time bawa Radva ke Amsterdam. Seperti biasa, kalo ke Amsterdam dari tahun 2009, pasti bawaannya makan ke resto Kebab langganan, biasanya sekalian numpang sholat, hihihi… enyak sih. Abis itu beli Mannekin Piss Patat dengan saos keju yang meleleh-leleh tak terlupakan, sluuurrrpp….

Again, canal cruise! Kali ini nganterin ade… Kali ke-4 bercanal cruise, setelah tahun 2009 bareng mama papa, tahun 2011 bareng bu cut, tahun 2012 bareng mas, dan sekarang sama ade. Tapi yang ini asik, soalnya atapnya super terbuka jadi enak lah kena udara sejuk malam musim panas. Sayang GAK ada canal cruise yang mau nerima bayi, gara – gara mereka lebih mengutamakan safety bagi penumpangnya.

Lalu, foto di my fave canal di daerah Jordaan. Entah kenapa pas tahun 2011 pas hotel di area Jordaan, nyesel cuman ambil 1 foto padahal kanalnya adem dan asri. Alhamdulillah ketemu lagi nih kanal mungil cantik dengan bunga dan sepeda, di jalan Bloemengracht <3

Jordaan Canal

Jordaan Canal

Volendam (24/08/13)

Dari Amsterdam, sekarang tiket terusan ke Waterland (Edam, Volendam, Marken, dsb) sekarang naik harganya jadi 10 EUR, waw… But, gapapa deh, toh ke Volendam buat foto kostum Holland, kan sudah ada Radva, hehe… Tapi sayang bener, giliran habis dipasangin kostum bayi-nya, eeehh… Radva malah nangis – nangis lama dan kenceng banget! Hhhh…. jadi nunggu lamaaaaa, tapi gak berhenti2 juga, malah tambah keceng. Dia GAK suka kayaknya pakai kostum yang gerah itu. Jadi aja, hasil fotonya masih berlinangan air mata, huhuhu… Udah jauh – jauh, jelek hasilnya T____T

Mewek foto kostum

Mewek foto kostum

As usual, makan siang beli kibbeling alias ikan-ikanan segar, udang goreng, seafood2 nan segar dari laut Volendam. Yummy…. jadi pengen lagi :D . Lalu dessertnya waffle dan poffertjies. Menikmati menyusui di pinggir pantai Volendam, desir angin laut, dan burung camar. Yey, hidup menyusui dimana saja dan kapan saja! xD

15

Volendam

Volendam

 

Heidelberg Trip (Part 2)

Published August 6, 2013 by vanya2v

Okay, pada post ini, Nyo akan bercerita mengenai sisi turis dari Heidelberg. As you know, Heidelberg is one of the touristic cities in Germany. Ada apa sih disana?

Saat guided tour, Nyo pilih untuk keliling kota tua (Alstad) Heidelberg. Heidelberg, kota indah dengan Neckar river mengalir di tengahnya. Yang jelas, yang paling terkenal dari kota ini adalah universitasnya. Rumah – rumah artistik nan indah di tepian sungai, dulu adalah rumah para dosen. Universitas Heidelberg merupakan universitas terTUA di Jerman. Jika berkeliling di sekitar Universitatplatz, bisa dilihat rupa universitas tua yang asli. Masih ada beberapa fakultas uni.ini yang menggunakan gedung tua disana untuk perkuliahan, sisanya di luar kota tua. Orang – orang Amerika banyak yang berkuliah disitu dulu dan mereka menyumbang satu kavling kompleks gedung Universitas Heidelberg.

Ada juga tempat pelataran dimana Martin Luther King menyampaikan orasinya. Hayo, masih ingat tidak? :p . Pada masa NAZI, boleh dibilang Universitas Heidelberg mengalami hal buruk, sebab uni ini ditutup dan semua dosennya diusir (dulu hampir semua dosennya Yahudi/tidak mau tunduk pada Hitler).  Kota ini merupakan kota pelajar, sebagian besar penduduk disini statusnya adalah mahasiswa. Sangat internasional, dimana semuanya menggunakan bahasa Inggris. Ada juga yang unik, yaitu Student’s Prison. DULU, ini digunakan untuk ‘penjara2an’ buat mahasiswa yang bandel banget selama berapa hari. Tapi sekarang sepertinya jadi toko buat jualan merchandise (eh, bener gak? :p).

Around Heidelberg

Around Heidelberg

Disini juga ada rumah ilmuwan Kirchhoff. Hayo, masih ingat dong soal arus listrik, hihihi… Tapi yang paling Nyo gemes adalah pas tiba – tiba nemu ada rumah Robert Schumann di pojok kota tua. Aaww… sang komposer dengan komposisi piano yang njelimet. Usut punya usut, menurut guide, ternyata dulu Schumann belajar Studi Hukum di Universitas ini. Sayang, ia merasa gak cocok dan membelot malah lari ke musik. Jadilah ia seorang musisi. Rumah yang ia tempati diapit oleh gereja dan RSJ (semacam tempat orang – orang yang punya masalah kejiwaan). Ada anekdot, ia sebagai perantau pernah menulis surat pada orang tuanya, bahwa ia sangat kebisingan. Di satu sisi, gereja penuh dengan suara nyanyian pujian, lalu di lain sisi terdengar suara orang sakit di RSJ berteriak – teriak. Ia bilang, tampaknya lama – lama ia bisa jadi orang gila atau jadi pendoa. Sayang, hidupnya berakhir di pilihan yang pertama :(

Dari Marktplatz, alun – alun utama, bisa dilihat Schloss Heidelberg, atau istana Heidelberg, berdiri di puncak. Ada beberapa gereja juga di Heidelberg, antara lain Jesuit Kirch, yang dari luar arsitekturnya memang tampak Baroque, tapi di dalamnya modern. Yep, kebanyakan bangunan kuno di Heidelberg memang bergaya Baroque.

Marktplatz

Marktplatz

Yang khas lagi adalah Old Bridge. Indah sekali pemandangan dari situ. Di ujung gerbangnya, terdapat patung kera dari besi. Dulu katanya ia adalah keranya sang raja yang membawa cermin. Katanya sama yang datang, “Ngaca dulu deh… ngaca dulu deh, ngaca ngaca dulu deh..” . hahahaha… xD

Ngaca dulu deh --> kata monyet

Ngaca dulu deh –> kata monyet

Anw, this is my fave family portarit from the Old bridge, dengan latar belakang castle dan neckar river. So lovely.. <3

From the Old Bridge

From the Old Bridge

…and yang paling utama disini adalah castle-nya! Untuk mencapai castle, kita milih pakai cable car alias funicular. Dengan membayar 4 EUR (untuk student) dan 6 EUR (buat dewasa), kita bisa make cable car return, juga masuk ke dalam castle nya (bukan interior-nya), serta garden-nya. Termasuk murah juga yah… Asik juga naik funicular-nya, gak se-crowded dibandingkan saat naik cable car ke Sacre Ceour. Radva really enjoyed it! :)

kastil :)

kastil :)

Sampai di atas, kita turun melihat castle yang sebagian besarnya adalah reruntuhan. Bukan, bukan karena di bon atau kenapa, tapi memang kastil ini runtuh… Oia, fyi, pas World War, Heidelberg itu gak kena bom US, sebab bukan karena dulu banyak orang US yang kuliah disini, melainkan saat pengeboman tertutup kabut tebal seluruh kotanya. Selamat deh… Secara umum, kastil ini bagus dan justru yang membuat antik adalah ruined-nya. Sayang taman khas Baroque-nya tidak terasa terlalu Baroque, agak ‘lengang’ aja dekorasinya.

Tapi yang paling Nyo suka, adalah melihat kota Heidelberg dari atas kastil. Rasanya WOW banget….. cantik! :)

Heidelberg dari atas kastil

Heidelberg dari atas kastil

Good time in Heidelberg! Though it was very hot in summer… #sweating

Heidelberg trip (part 1)

Published August 6, 2013 by vanya2v

22 Juli 2013

Pagi – pagi sudah berangkat ke stasiun Enschede, demi mengejar kereta ke Jerman. WEw, it was a long journey and first time travelling abroad for baby Radva.. Gaya banget kau, nak, baru 3 bulan udah jalan – jalan ke luar negeri (hahah, meskipun definisi luar negerinya naek kereta tinggal nyeberang gitu). Karena ini trip bukan untuk jalan – jalan semata tapi karena ada suatu seleksi (well, I ended up gagal, gak lolos, yo wis lah gak rejeki), jadi makNyo bawa banyak botol ASI-p, hasil perahan selama 3 hari dengan susah payah. 4 botol di Cooler Bag medela (yang notabene tahan 24 jam dengan ice pack besar), dan 4 botol lagi di cooler bag standard yang dikasi ice gel (kalau disini dijualnya di toko obat, buat kompres dingin. Cuman tahan 8 jam). Repot dah…

Radva on train

Radva on train

Selama di kereta, sesuai jadwal, setiap 2 jam, Radva ng-ASI. Enak ya ng-ASI, tinggal pakai celemek ASI terus susuin deh. Bayangkan kalau dia nyusu botol, harus bikin susunya, manasin, dsb, di kereta? Gak kebayang deh… >.< . Naik kereta DB dari Enschede – Dortmund, terus ganti kereta ICE yang bagus kayak di pesawat. Nyaman sekali, Toiletnya luas dan ada tempat ganti popok yang empuk. Jadi deh selama kereta bergoyang – goyang, sempetin ganti popok. Di Manheim, naik kereta S-bahn ke Heidelberg. Setelah hampir 7 jam total perjalanan akhirnya sampai juga kita di Heidelberg, Alhamdulillah…

23 Juli 2013

My first selection day. Fffuuhh…. so hectic and tired, full of presentations and 3 interviews. I met many candidates from across the globe. and they just do not realize that I am actually a Mom. I felt very young *blushing* among those young students.  Dari pagi sampai malam (harusnya sampai jam 10 malam, tapi Nyo izin pulang karena radva udah fuzzy banget). Di sela – sela waktu istirahat, makNYO curi – curi waktu buat pumping. At least I need twice, gak mau ambil resiko bengkak. Alhamdulillah disana ada ruangan buat ibu-anak, jadi tinggal pumping dengan leganya. Radva yang ditemani papi di hotel sudah fuzzy banget nyariin makNYO, nangis-nangis all day :( . Apalagi ternyata dia masih belum ‘percaya’ sama ASI dalam botol, jadi gak mau nyedot, tapi dikasihin aja kucurin ke mulutnya ASI-p nya :D

24 Juli 2013

Second day of interview. Lumayan agak lengang dibandingkan dari kemarin. Agendanya hanya general interview alias di wawancara di depan panelis 5 orang inteviewer. Yang aku kira aku gagal total disana. Sebab semua orang ditanya pertanyaan yang sama dan oh no, I really don’t know about biology! They asked something about biology process. I dunno, I think I just messed up :(( . Mereka semua juga gak ada dari bidangku, semuanya bidang fisika dan biologi. Dan sepertinya aku cuman ngomong ngalor ngidul mengenari image processing and mereka bengong gak nyambung. AH Garing deh… x(

Malamnya, dinner di Alstad alias kota tua. Sebelumnya ada guided tour keliling kota tua (I’ll explain this in the next post). Semua kandidat yang sekitar 80 orang itu berkumpul. Restonya tua, unik, di samping Neckar river persis, very nice view… Karena makanan yang ku pilih vegetarian, jadi dapatnya: pasta jamur, dan keju serta minumnya orange juice. Oia, they also served a traditional food which I ate on Munich last year: Kaesespaetzle, alias mie keju. Jadi mereka bikin adonan pastanya dicampur dengan keju dulu, baru diolah. yummy… :D

25 Juli 2013

Last day. I had lab visit to 7 Tesla MRI. Menarik, ternyata MRI 7 Tesla disini sudah digunakan ke pasien. Pasti kontrasnya baik dan jelas banget yah. Kukira 7T MRI cuman buat small animals. Aku mengunjungi lab pembuatan berbagai coil MRI 7 T, sebab untuk pemeriksaan organ tertentu, pasti butuh coil tertentu juga. Mereka juga ada kerja sama dengan Siemens, yang menggunakan hasil risetnya. Mereka juga meneliti akuisisi dan metode sequence untuk 7T MRI from x-nuclei. Jika biasanya MRI menggunakan nukleus H, maka disini mereka coba dengan Na, K, dsb. Yah, meski resolusinya masih jauh dari harapan, butuh pengembangan lebih lanjut.

7T MRI

7T MRI

Lab visit berikutnya ke lab radiotherapy. Sebenarnya supervisor ini ngajak Nyo buat keliling dept.physics disana. Wew, menarik.. jadi ini pusat riset juga dipakai untuk pasien langsung. Untuk kasus – kasus langka, pasien2 dari RS Heidelberg dirujuk kesitu, ada ward-nya juga. A bit scary gak sih, ward di antara lab – lab fisika/kedokteran nuklir, secara environment nya juga gak terlalu friendly and clean kayak di RS.

Keliling lab, semua alat lengkap, mulai dari CT-Scan, MRI, PET, SPECT, bahkan yang cuman ada 7 di dunia kali ini produk SIemens (PET-MRI), sampai alat – alat radiotherapy mutakhir. Ada synchroton, ada Linac (linear accelelator) yang besarnya sampai 3 lantai! Wuah… gendheng. Aaah, excited banget!! ^__^

Setelah itu kita berkumpul untuk acara penutupan.

Fun experience. Meskipun hasilnya menyedihkan :( . Gak ding, anyway makasih banget mas udah mau nemenin meski di sela – sela kesibukan tesisnyo, apalagi direpotkan suruh ngurus Radva, huhu… Pasti ini keputusan Allah yang terbaik, di ujung 2 tahun perjuanganku mencari kerja, meski belum dapat2 sampai sekarang but I must feel so happy. Now it’s time for me to leave Europe..  :’)

26 Juli 2013

Paling gak enak nih. Masa kereta ICE dari Mannheim – Dortmund delay-nya 1 jam! OMG… akhirnya kita bertindak cepat, main langsung naik aja kereta IC. Eh, ternyata ini kereta muter jauh dan lambat, jadi nyampe nya malah 1 jam lebih lambat (which is sama aja kalau pake ICE yang delay), Belum lagi, di dalam IC itu PUANAAASSSEEE…minta ampun. Senewen si Radva, dia haus, pengen ng-ASI, tapi giliran ditutup celemek kagak mau saking gerahnya. Nangis – nangis deh… Bingung juga. Sepanjang perjalanan jadi makNyo ngipas-ngipasin Radva aja, biar gak basah kuyup :D

Akhirnya, tepar banget Alhamdulillah sampai kembali di Enschede dengan selamat. What a long train trip.. xD