Perekam dari Masa ke Masa

Published February 21, 2015 by vanya2v

“I’ve always wanted to be an inspiring musician…”

“Cita – cita yang tertulis di buku tahunan SD –> pemusik.”

“Cita – cita yang tertulis di kuesioner SMP –> seniman.

Cita – cita setelah itu… yeah, mungkin sudah bias karena terpengaruh bisik sana – sini. Tapi, melihat ke belakang, ternyata dari kecil memang disanalah passionku. Kayaknya dari kecil emang sukanya nyanyi – nyanyi dan ngerekam, heheh…

Toddler

Pengalaman pertamaku jadi ‘operator rekaman’ dimulai pada umur 3 tahun. Karena suka nyanyi – nyanyi, jadi mulai ‘belajar’ ngerekam pakai radio SONY kuning di bawah ini (radionya sudah entah kemana, tapi benar ini tipenya!). Masukin kaset kosong/gak kepakai, pencet tombol merah, dan nyanyi – nyanyi deh. Hehe…. Nih radio ketahuan banget ya era 1990 ^_^

source: https://www.pinterest.com/pin/23081016814365786/

Ini adalah rekaman suaraku pas umur 3 tahun itu… Alhamdulillah masih nyimpen di kaset dan sudah semua diselamatkan jadi digital :p

http://labs.echonest.com/Uploader/index.html?trid=TRHBVFQ14BB916B259

SD

Berajak SD, Nyo mulai ngerekam pakai tape yang lebih keren. Yah, masih jadul sih, pake kaset… Tipe SONY warna hitam dengan dua pintu kaset. Jadi bias pakai music latar, yang di sebelah kiri kaset buat nyetel music pengiringnya, terus yang di sebelah kanan, kaset kosong buat rekamannya. Tinggal colokin mic ke I/O dan pencet deh tombol Rec merah di pintu kaset yang sebelah kanan. Atur – atur EQ nya, jadi deh!

Source: http://www.estedoronko.com/auction/images/tech/stereo1c.jpg

Lagi – lagi gambar di atas bukan aslinya, soalnya tape combo ini sudah entah dimana, heuu…

Mulai naik kelas 4 SD, nyo baru suka nyiptain baru, ceritanya baru bisa main gitar. Dengan berbekal ngerekam dengan tape di atas, mic, gitar, dan kaset kosong, akhirnya Nyo merekam lagu pertamaku: Peace in Rain. Ini rekamannya, haha, suara anak SD masih imut ya :D

http://labs.echonest.com/Uploader/index.html?trid=TRNDYEL14BB91D33F8

Setelah milestone itu, mulai deh suka bikin lagu – lagu dan ngerekam sendiri…. sampai SEKARANG, hahaha…. xD

SMP:

Aku lupa, saat itu SD atau SMP, papa membuka satu peti kayu yang tenyata di dalamnya adalah magnetic sound recording dari tahun jadul (mungkin 1960, sebelum papa lahir).

Magnetic tape recorder

Magnetic tape recorder

Magnetic tape recording  itu merupakan warisan dari mbah – mbah. Cara menggunakannya agak ribet sih karena harus pakai pita magnetic besar 35 mm. Saat itu kita nyari – nyari di antara koleksi pita magnet2 yang tertumpuk (saat di setel isinya macam – macam, ada Elvis, lagu2 lawas jazz, dsb, koleksi mbah), mana yang kosong atau bisa dipakai untuk merekam?

source: http://www.estedoronko.com/auction/images/tech/stereo1c.jpg

Sekarang alat rekaman di atas masih rapi terbungkus di rumah, gak dipakai lagi…

Memang, dari sisi kualitas, dibandingkan dengan merekam lewat tape kaset kecil, merekam dengan magnetic tape besar ini lebih bagus hasilnya. Satu – satunya masalah adalah pita magnet yang besar itu sebagian sudah berjamur dan alatnya terkadang suka ‘ngambek’. Akhirnya kita routing perekam besar ini, output ke tape combo biasa. Jadi hasil rekamannya bisa disimpan di kaset ukuran normal, pada zaman itu. Hihihi… Seru sih ngutak – ngutik perangkat rekaman lawas dengan tombol knob yang user-friendly-untuk-kakek-nenek. Ribet kadang kalo ditengah-tengah, eh, pita magnetiknya melintir… jadi kacau.

Tapi gak bertahan lama dengan perangkat tersebut, karena ribet dan Nyo dibelikan tape combo baru, merk AIWA biru, yang kayak begini nih:

Akhirnya Nyo rekaman pakai ini dan pakai keyboard. Ceritanya, waktu itu sudah bisa meramu komposisi dengan berbagai sound lewat keyboard. Jadi, dengan berbekal sebuah keyboard YAMAHA dan disket, Nyo mulai membuat lagu dan disimpan. Jadi, saat mau rekaman, tinggal play music dari keyboard, dan merekamnya dengan mic dan tape di atas :p

Inilah lagu yang dihasilkan untuk ujian EBTA praktek Seni Musik SMP, judulnya Magnified Problem:

http://vanya2v.bandcamp.com/track/magnified-problems

SMA

Secara SMA 2 tahun menyita banyak waktu dan pikiran, jadi benar – benar gak sempat untuk mikirin bikin lagu. Tapi les piano, biola masih jalan. Lagu ‘MAMA’ dibawah ini bukan aku yang bikin, tapi hanya mencoba mengaransemen dan menyanyikan, sekaligus merekamnya. Untuk aransemen masih berbekal keyboard dan merekam masih pakai dynamic-mic plus tape combo. Terus dari kaset baru ditransfer ke komputer, buat edit audionya (cuman nge-cut doang). Lagu ini tribute buat almh.Eyang ku yang setahun setelahnya meninggal. We really miss you, eyang… I always feel sad whenever I hear this song, so I rarely play this song :((  T__T

http://labs.echonest.com/Uploader/index.html?trid=TRRYTYT14BB92009A0

Ok, menginjak SMA, tampaknya kaset sudah mulai ditinggalkan. Memang sih sempat namanya bawa – bawa walkman ke sekolah, tapi MP3 player mulai menjamur di era ini. Karena itu koleksi kaset ku yang aku kumpulkan semenjak SD terpaksa dihentikan, huhu… beralih ke era digital. Padahal sedari SD, hampir tiap bulan beli kaset, setidaknya selalu ada referensi musik satu album dari artis apa pun yang lagi muncul di MTV (weks!). Dihitung – hitung, pada akhirnya koleksi kasetku mencapai sekitar 500 lah (belasan tumpukan rak kaset macam begini di rumah):

Rak kaset

Rak kaset

Ini list kasetnya: DaftarKoleksiKaset, kalau ada yang mau lihat. Aku list secara alphabetical, juga dipisah antara genre, OST, nasheed, dsb :p . Meski aku yakin sepertinya sudah banyak yang jamuran karena nggak pernah ditengok – tengok empunya lagi, huhuhu… T_T

Kuliah

Kuliah tahun 2004, mulai kenal sama Adobe Audition, MIDI, dkk… Jadi, pake keyboard, bisa rekam multitrack masing – masing instrumennya, nggak direkam di disket lagi, hahah… Tapi tetap masih pake mic dinamik dan nggak kenal mixing atau fx apalah, ngadelin volume doang :p .

Ini foto awal kuliah (2004), saat masih cupu, di depan keyboard dan DAW pertama.

Foto tahun 2004

foto tahun 2004

Salah satu lagu yang dihasilkan dengan perangkat di atas adalah 2 Separated Souls (2005):

http://vanya2v.bandcamp.com/track/2-separated-souls

Seiring berjalannya waktu Nyo mulai make DAW laen, sekitar tahun 2007 make SONAR, Fruity Loops, Ableton, akhir2 ini ke Reaper karena lebih ringan, dsb. Beralih dari composing dari keyboard, jadi composing lewat DAW dengan FL dan plugin2, Kontakt, library, dsb.

Now

Setelah lulus kuliah master tahun 2011, udah bisa pake duit sendiri beli perangkat yang diinginkan…Audio interface Alesis dengan I/O 2 biar bisa dibawa2 nomaden, mic kondensor C-1 behringer, headphone Senn, dsb. Minim banget sih, tapi lumayan lah… :p . Ini foto diambil tahun 2012, pas nyelesein album ke-4 (http://vanya2v.bandcamp.com/album/time-4-us), di rumah xD

dan inilah hasil rekamannya, pas boyongan alat2 di atas ke Belanda, hehehe…. Yep, my music has just evolved, from pop, dance, country, to classical, bermain – main dengan EWQL library.. xD

http://vanya2v.bandcamp.com/track/the-king-dances-2

Indeed, I still have to learn more about mixing, composing in DAW, recording engineering, mastering, etc… But, at least, it’s a part of a journey.

It’s a pity that now I’m not in really in music, maksudnya sekarang di ‘jalur’ yang berbeda… Meskipun rasanya pengeeen…banget getting known with my music, hihi.. tapi kesempatan masing – masing orang beda. Semoga aja nanti benar – benar ada kesempatan to show my music to the world (haelah bahasanya)…aamiin.. dan bisa melanjutkan hobi rekaman2 sendiri ini dengan studio komersil (beneran, dengan panel mixer yang gede, ruang kedap suara, operator, alat2 rec.canggih) sendiri (lagi – lagi mimpi siang bolong), tapi semoga ada yang ‘aamiin’ in bisa terwujud :p

Visa UK Tier 4 (student and dependent)

Published February 19, 2015 by vanya2v

Alhamdulillah beberapa minggu lalu sudah dapat visa UK-nya untuk bertiga. Berikut akan saya jelaskan tahapan dan persyaratannya, bagi student yang ingin membuat visa sekaligus keluarganya ke UK.

Aplikasi visa semua dilakukan online melalui portal ini: https://www.visa4uk.fco.gov.uk/

Disana kita mengisi form aplikasi online (untuk student, harap siapkan CAS dan ATAS!), seperti nomor paspor, nama, alamat (di UK kalau sudah ada, dan disini), DOB, detail study, detail orang tua, dsb. Untuk student bisa dipilih appointment untuk Tier 4 (student), nantinya bagi Tier 4 Dependent (Partner) dan Tier 4 Dependent (Child) akan merujuk ke no.paspor Tier 4 student (applicant visa utamanya). Ada baiknya aplikasi dilakukan dan diajukan bersamaan semuanya, agar tidak repot. Untuk biaya, masing – masing sama, yaitu 530 USD. Setelah komplit mengisi aplikasi, pilih appointment (di visa center di VFS Jakarta atau Bali),dan membayar online, langsung dapat nomor referensi dan notifikasi di email. Intinya untuk memenuhi aplikasi, kita harus datang di jadwal yang sudah dipilih, membawa dokumen2.

Pengajuan visa baru bisa dilakukan 3 bulan sebelum masa studi yang tertera di CAS, jadi sebelum 3 bulan itu ya belum bisa mengajukan. Untuk keterangan di https://www.gov.uk/tier-4-general-visa memang tidak disebutkan secara detail list dokumen apa saja yang diperlukan untuk aplikasi. Tapi, setelah cari sana – sini, inilah list dokumen yang saya lampirkan untuk aplikasi visa UK.

Dokumen ASLI untuk TIer 4 student (main applicant):

  • Photographs (2) –> ukuran 3.5 x 4.5, ketentuan silahkan di cek disini: https://www.gov.uk/photos-for-passports  , background harus abu2 muda. tapi nanti di visa center juga di foto lagi sih… dan yang dipake yang difoto disana.
  • Current Passport
  • Previous passport
  • A print out of appointment confirmation
  • A signed print out of your visa application
  • TB Certificate
  • CAS (yang paling penting nomor CAS-nya)
  • Previous qualification: certificates or transcript (BsC – MSc, terutama yang tertera di surat CAS!)
  • ATAS certificate (print out)
  • IELTS result
  • Bank statement (jika tidak beasiswa)
  • Scholarship letter (or letter of guarantee from sponsor)
  • Birth certificate

Semua dokumen di atas di FOTOCOPY (kecuali print out aplikasi online dan appointment), termasuk FC semua halaman paspor lama dan paspor baru.

Oia, untuk TB Certificate, kalau di Jakarta bisa dibuat di RS Premier (Jatinegara dan Bintaro) dengan biaya Rp 690.000. Jadinya langsung besoknya kok, dan cepat, hanya X-ray saja. Kecuali, untuk anak di bawah 12 tahun tidak di X-ray, hanya diperiksa oleh dokter.

Sedangkan list Dokumen ASLI untuk Dependent (partner):

  • Photographs (2)
  • Current Passport
  • Previous passports
  • A print out of appointment confirmation
  • A signed print out of your visa application
  • TB Certificate
  • Proof of relationship with main applicant (marriage certificate)
  • Birth certificate
  • Evidence of funds: Copy of main applicant’s Letter of Guarantee from sponsor+bank statement+letter from supervisor confirming that the main applicant can bring her families to UK.

List Dokumen ASLI untuk Dependent (Child):

  • Photographs (2)
  • Current Passport
  • Previous passports
  • A print out of appointment confirmation
  • A signed print out of your visa application
  • TB Certificate
  • Proof of relationship with main applicant (family card + translation)
  • Birth certificate
  • Evidence of funds:Copy of main applicant’s Letter of Guarantee from sponsor+bank statement+letter from supervisor confirming that the main applicant can bring her families to UK.

Sama seperti dokumen main applicants, semua dokumen asli harus di fotocopy. Oia, jangan lupa diterjemahkan ke bahasa Inggris dokumen2 berikut:

– Kartu Keluarga (jadi family card)

– Akte kelahiran (kalau sudah yang kutipan 2 biasanya sudah 2 bahasa)

– Akte Nikah (sekarang sih sudah 2 bahasa kok buku nikahnya)

– Sertifikat S1 atau S2 (bagi yang masih belum dalam bahasa Inggris)

Setelah menyerahkan semua dokumen ke visa center VFS (di Kuningan City, Jakarta) dan melakukan biometric disana (foto dan sidik jari), kita akan dihubungi lagi per email. Buat student, ada interview sih.. tapi hanya online interview, kyk Skype-an dengan interviewer nya. Sebentar, hanya ditanya mengenai:

– Nama dan DOB (Harap di cek ulang lagi DOB harus benar)

– Kenapa memilih UK/ kota itu/ universitas itu/ jurusan itu?

– Disana bakal tinggal dimana? Kenapa?

– Apakah penting studi mu itu untuk ke depannya? Related dengan previous study gak?

Normalnya visa akan selesai dalam waktu 10 hari kerja, tapi untuk ini Alhamdulillah 7 hari berikutnya sudah bisa diambil setelah menerima email sbb:

Application Recieved from the post: “The processed visa application for GWF reference number –  GWF__ was received at the UK Visa Application Centre on 1/27/2015 .

If a courier service was purchased from VFS Global, your processed application will be delivered to the chosen address.

If not, your documents can be collected during the designated passport collection times.”

Begitulah sekilas info tentang aplikasi visa UK bagia student yang mau membawa keluarga. Semoga membantu :)

Flashback 2014

Published December 31, 2014 by vanya2v

Tahun 2014 adalah tahun Indonesia untuk ku…

dimana ku bisa merasakan suhu hangat (baca: nyaman) setiap saat.

Tahun dimana aku gak usah repot-repot masak, nyuci, nyetrika, nyapu, ngepel sendiri (baca: kan ada mbak).

Alhamdulillah rasanya enak banget ya di Indonesia. Mau jajan gado-gado, batagor, kue lekker, bakso, martabak, tinggal manggil gak usah bikin sendiri.

Setelah dari  tahun 2009 jauh dari Indonesia (UK-Prancis-Spanyol-Belanda), akhirnya tahun 2014 adalah tahun dimana aku bisa ‘beristirahat’, menikmati leyeh-leyeh ala Indonesiawi, hahah…. Haduh, rasanya kok untuk kembali lagi ke Eropa (insya Allah bulan Maret 2015) malas lagi ya, udah lembam dan nyaman sih di Indonesia. Keinget nanti harus apa-apa sendiri, adaptasi lagi, cari akomodasi lagi, cek imigrasi lagi, dsb… waaw T_T. Yasudahlah, mungkin emang ditakdirkan gak boleh lama – lama di comfort zone. Setiap baru aja udah ‘pewe’ kayaknya disuruh ‘pergi’ lagi… Mumpung masih muda, gapapalah… Just take the precious chance that Allah SWT gave.

Tahun 2014 adalah tahun yang tenang sekaligus tahun menemukan tambatan hati (ciyeehh… maksudnya untuk karir). Awal tahun ini, akhirnya banting setir ke dunia akademis setelah melewati berbagai gejolak hati dan labil ekonomi (apaan sih ih, ngaco, maapkeun =,=;). Tahun ini pula seperti tahun kebangkitan, setelah 2 tahun vakum dari segala kegiatan, cuma nguplek dalam rumah aja… Berada di Indonesia benar – benar membuat mataku seperti melek lagi dan jiwaku hidup lagi! I can see the world now :) . Well, at least, now I know what I should do and pursue. Thank you Allah!

So what to do in 2015?

Too many things…. too many hopes….. too many anxieties… actually, I’m afraid but excited!

2015 is like – taking a big leap in life. We’re already in the comfort zone, everything is under control.. and then we’ll have to go on another adventure. Ya Allah…  Semoga Engkau lancarkan segala urusan, dimudahkan agar bisa berkumpul bersama keluarga selalu, dilimpahkan rezeki yang berkah, dan we can start our new life – hopefully You’ll give a much-better life to our family.. aamiin YRA…. :D

-31 desember 2014, di saat bayi besar dan bayi beneran terlelap dibuai rintik hujan-

Start-up Asia Jakarta 2014

Published November 28, 2014 by vanya2v

These two days before my birthday were so exciting…  Let me tell you the details of Start-up ASIA held by TechInAsia.

Day 1 – 26 November 2014

Be ready to meet Asian start-up heroes!

Many great speakers in Asian tech-startup came to this place. There were booths at bootstrap alley to show up the start-up products, two rooms (world domination room and kickstart room) for seminars, venture room (for speed dating – where start-up meet the investor, meet the media, office hour – to know possibilities of joining start-up into the big-company program, hiring day), and and the most interesting room…food alley! :p

At the first day, Andy Zain (Mountain SEA ventures), Ferry Unardi (Traveloka), Ken D.L (Kaskus), Anthony tan (GrabTaxi), Rick Mulia (Twitter), and Sonita Lontoh (Sillicon valley Asia technology Alliance), etc., were on stage in world domination room. From the first speaker, we realized that we must first fix fintech (Financial technology) in Indonesia to gain numbers of eCommerce customers or to enable creative producers in music, games, etc. Traveloka was another success story, that was accelerated by Rocket Internet guys. On the other hand, local start up heroes, like OLX, Kaskus, and KLN (Kapan Lagi Network) told their stories on how to crack the code in Indonesian market. Kaskus at the beginning tried to adapt and follow what the users want. Their main intention is to keep their number of users high. These three start ups predicted that in the next few years, eCommerce in Indonessia gonna be BIG! But, now the trend is kinda focus in vertical side, means focus on small rings, like selling only fashion, or only cameras, cosmetics, etc.

Meanwhile, in Kickstart Room, there were many useful seminars for early-stage start-ups (so I spent lot of time in this room for the 1st day). We could learn from the co-founder and CEO of Tokopedia, Wiliam Tanuwijaya. They raises US$ 100 million recently and became the #1 open marketplace in Indonesia. He shared about attracting the best talents in Indonesia. Always hire the ‘A’ players in your company! That’s what the wisdom said. But, in reality, what if even the ‘E’ player do not want to work in yours?? Well, hey, this is Indonesia, not Silicon Valley where everybody’s happily work in start-ups because they always question “who will be the next FB” “what can be the next Google” and some kind-of-those…

Willian Tanuwijaya also said that to retain your employees, you must be a leader who has a sincerity like a teacher but has a great willingness to learn like a student. What are the qualities of a teacher?

  • - Communicate well
  • - Develop our team, in the way we develop our students
  • - Sincerely. Can you imagine of an alumni reunion… Normally, at that situation, each tries to ‘show-off’ – “Hey, I’m now in bla..bla.. bla..” or “Hey, you’re now a Manager in…” or “I heard you’re being promoted..” bla3.. But their teacher just watched silently and sincerely. What do the teacher feel? Of course, PROUD.

Another quote:

“..be a visioner, not a dreamer.”

Because a dreamer dreams with closed eyes, but a visioner dreams with open eyes.

The most exciting seminar in the first day for me is “Stage Pitching” from Khailee Ng (managing partner from 500 startups). Previously, he was in Groupon and 500 startups has been invested in Catcha group, malesbanget.com, and  bukalapak.com. As we all know, to steal the heart of investors, start-ups must do a stage pitching in 3-5 minute session. So how to master the 3-minute pitch and bring that pitch effect? He showed us the clues!

Your pitch must make people feel:

  1. “I want to know more.”

Always lead your pitch with traction and don’t put that traction at very end (don’t waste your time with lengthy introduction). Introduce from costumer’s perspective, like “Our start-up help customer in …[what way]”

2.  “That’s great idea.”

Amplify problem, again from customer perspective (how the solution works). Extract the stories and say in about 10 seconds. You can juxtapose from qualitative and quantitative sides for maximum effect. You can also compare with big-number of market opportunity, with emotion.

3.  “This is going to be huge.”

Use bottom-up calculations. You can start with saying the number of customers you reached, and target of costumer you’re dreaming to reach within bla3 years. You can add, how big will the business be, if we can reach that number. Put some calculation of $$$ on it.

4.  “This is the team to do it.”

There is no use to introduce the name and background of each member in your team! you’re just wasting time. Focus on core competencies you’re required to WIN. Show that your team have the quality to win! For example, “He have been in this industry for.. years. He has global experience…in this skills, bla3..”

5.  “I want to be part of this”

Put emotional effect on your dream, such as “What are you waiting for. You can be our ambassador.. you can be our sponsor.. bla3..”. Summarize your best and key-highlight. Don’t forget to say, what kind of investor or exact help your start-up really need?

Start-up Asia Tech-in-ASIA

Start-up Asia Tech-in-ASIA

Day 2 – 27 November 2014

Some of the speakers in the last day were Daniel Tumiwa (idEA), Nabilah Alsagoff (Doku), Hanifa Ambadar (Female Daily Network), Fazal Bahardeen (Crescent Rating), Paul S (aCommerce) and Peter V (Rovio). Parallel with seminars in World domination room were the Demo day of selected developers from Hackatron.

Fazal from Crescent Raiting spoke about growing business in muslim consumer market. Faith is increasingly influencing muslims’ purchasing decisions. Some of the products can be digital Quran, digitized umra, or halal-food-friendly. Recently, he also launched HalalTrip, an app that makes the trip can be muslim-friendly (is there any halal food on plane, etc).

Bpk. Rudiantara, Indonesian ICT minister was on stage during lunch-time. He discussed about ITE regulations and how government tries to improve the tech-start-up ecosystem in Indonesia.

The hottest topic in the second day was the discussion from Rocket Internet (RI) ‘graduates': Steven Kim (Qraved), Fung Fuk (Rupawa, Lazada), and Juan Chene (Foodpanda, Zalora Singapore). Most of the Rocket-internet-backed ventures agreed that SPEED is the key-factor in Rocket Internet. There is no time to validate ideas, only taking business model and just execute! What lessons learned from RI is that because of that ‘speed’, there is lack of company-culture-building. RI only wants to play BIG! At first, they start to hire many staffs to speed-up the process (the cost is huge). You have to sprint like crazy to achieve targets. Data orientation is so important for RI, every single channel was assessed in daily basis to make sure that they grow gradually (20-30%/month).

“TIMING to the market is super important.”

Another interesting talk is from the mighty eagle ROVIO. Angry Bird came from student project and they did not expect that the result will be this big. Today, ROVIO is not only about gaming, but also movies, animation, and consumer product with $ 2.5 billion revenue. He advised us to do great products (make it stand out) and be serious on branding and marketing.

“Try to build the game that we love to play”

The last and the-most-wanted session is Start-up arena where 10 start-ups from across Asia battled pitching on stage. There were bareksa.com, triip.me, playroll, u-Hoo, iGrow, pembantu.com, etc. …and the winner is iGrow! They bring home US$10,000 and Startup Asia Champion Trophy. Congrats!! :)

This event really inspired me to follow my dream… Wish I can build and grow my own start-up, too… :p #dreaming #someday . Aamiin…

Global Entrepreneurship Week Summit Jakarta 2014

Published November 24, 2014 by vanya2v

21 November 2014

I know I’m not (yet) an enterpreneur, but hey gakpapa lah ikutan buat nambah2 ilmu, siapa tahu beneran jadi nanti (aamiin…) :D

GEW ini secara bersamaan diselenggarakan di 150 negara dengan 35.000 event. Untuk Indonesia, GEW (Global Entrepreneurship Week) summit tahun ini diadakan di Ciputra Artpreneur. Baru pertama kali saya datang dan masuk ke dalam teater yang ternyata megah dan sangat berseni. Galery-nya juga aktif memamerkan kreasi seni, seperti patung, lukisan, dan instalasi. Biasanya ke Ciputra World mall nya doang Lotte Avenue :p

Setelah ngawa mid-exam anak-anak (4 kelas sekaligus untuk 2 courses berbeda), langsung deh pagi itu melesat dari Senayan ke Kuningan, untung saja tidak macet. Sesampainya disana pukul 09.30 langsung pas Ahok datang dan memberi speech-nya mengenai the Role of Entrepreneurship in Shaping our Future, terutama menyinggung kemudahan untuk berwirausaha di Jakarta (termasuk izin usaha yang akan menjadi hanya 1 lembar 1 pintu), dsb.

Dane Stangler, dari Kauffman Foundation gantian ke podium memberikan materi setelah Ahok. Isinya mengenai Entrepreneruship Global Research and Policy. How to create entrepreneur? Ini ada 4 tips dari nya:

  • Learn sales –> you must know how to sale
  • Jack of all trades –> at first, you need to do a little bit of all things in your business.
  • Recombination and crossing boundaries –> to recover scarce resources
  • Make connection –> again, related networks are important

Pembicara setelah itu adalah Jeff Hoffman, a serial enterpreneur, founder dari Priceline dan ColorJar. Materi yang dibawakan oleh enterpreneur asal US ini (yang pada GEW 2014 didaulat untuk memberikan materi di 40 negara) adalah mengenai Scaling up Strategy. Terkadang orang melihat entrepreneur enak-enak aja, but actually what and how is it? There is an interesting quote from him;

“An entrepreneur is like jumping off the mountain and you have to build the airplane on the way down.”

See, if you are success building an airplane, then you can just fly safely on your way down. But if you are failed then you may crash and burn.

What is scaling? It is like, after you build your own airplane and can fly, you want to grow and build a more hi-tech airplane, for instance. How to scale your business? Why not grow? There are some strategies to scale up:

  • Work smarter –> not just harder
  • Time and motion study

Stop do all the work and write all of your activities everyday for a week. You turn each of those activities into a process. Then, from all of those processes, you can check which one that can be automated (for example, managing your email automatically or sorting, etc) and outsourced (such as take the administration team from outsource, etc).

  • Efficient company

Focus only on you “secret sauce” and just do that and be the best on it (other unimportant tasks can be outsourced)

  • Eliminate customization

This is the key to scaling. Means that let the customers do your work for you. For example, register themselves in online forms, etc. You must build technology like an ATM where customers do all the tasks.

Sesi setelah Jeff Hoffman ini diisi oleh Nielsen Company, yang menyoroti tentang StartUp Macronomic Ecosystem in Indonesia. Lebih mengenai UKM di Indonesia, yang ternyata mayoritas masih bergerak di bidang 3 besar: Beverage – Furniture – Fashion alias pangan-sandang-papan.

Atas: me in GEW. Kiri bawah: Ciputra sedang meresmikan CGI. Kanan bawah: teater berseni di Ciputra artpreneur

Atas: me in GEW. Kiri bawah: Ciputra sedang meresmikan CGI. Kanan bawah: teater berseni di Ciputra artpreneur

Peresmian CGI (Ciputra GEPI Incubator) http://www.gepi.co/ dilakukan oleh Ir. Ciputra dan G.Nicolosi dari Ernst & Young, menjelang makan siang. Baru pertama kali melihat langsung Bapak Ir. Ciputra, yang meskipun sudah 80 tahun lebih, tapi masih bisa jalan dan berdiri lama di panggung, juga sangat bersemangat, berkali – kali berseru “Salam Entrepreneur” sambil membuat huruf ‘E’ dengan tiga jari ke samping.

Makan siang diadakan di lantai 11 Artpreneur dengan disuguhi animasi seni fairy-tale tradisional khas Indonesia di proyeksikan secara megah di dinding setinggi 2.5 lantai. Selepas lunch, acara dilanjutkan dengan diskusi panel bertema “Developing Entrepreneurship Ecosystem in Indonesia”, dengan panelis Dr. Achmad Malkan Lubis (dari kementrian ekonomi kreatif), Shinta Kamdani (CEO Sintesa Group), dan dari Telkom DDB Accelerator.

Oia, expo di GEW ini juga diisi oleh booth yang mendukung start-up seperti DDB Accelerator dari Telkom (http://ddbaccelerator.com/), cloud hosting, virtual office (hihihi… seru nih, bolelah), dan jasa pengurusan buat PT/CV. Hehehe…. Khusus untuk DDB Accelerator Telkom ini spesialisasi untuk membantu start-up di bidang ICT mendistribusikan produknya agar lebih maju. Program ini baru, berawal dari Indigo incubator dan siapa saja boleh daftar kok, ke web nya aja yah…

Nah, yang seru sesi terakhir: TALK-A-THON alias marathon sharing inspiratif dari 16 entrepreneurs! Wuiiihh… berbagai kisahnya sangat inspiratif deh, sebut saja ada Bong Chandra, Hadi Wenas dari Zalora (omg, I adore – and envy- him, Master comp.science from Stanford, worked in Oracle headquarter, and worked in McKinsey Indonesia for 7 years, euugh… ), Natali Ardianto dari tiket.com, sampai bunda Anne Avantie yang sangat bersahaja (tapi membius semua peserta sharing-nya).

 

[Bagian 2] Program Kepemimpinan Beasiswa Presiden Republik Indonesia (PK-BPRI) 1

Published November 23, 2014 by vanya2v

Kita lanjutkan cerita mengenai pengalaman selama PK BPRI. Silahkan baca posting sebelumnya disini mengenai sesi materi Inspiring Leaders, Mars BPRI 1,  dan eksekusi Leadership Project (LP) kami di Desa Batok .

Sebelum berangkat ke markas KOPASSUS dengan badge PK BPRI

Sebelum berangkat ke markas KOPASSUS dengan badge PK BPRI

12 Oktober 2014

Inilah 2 hari yang paling menegangkan! Bagaimana tidak, inilah hari kami ber-109 dilatih di markas KOPASSUS di Situ Lembang. Pagi hari, kami sudah berkumpul di lapangan SBF mengenakan polo-shirt merah BPRI. Tronton – tronton pun datang satu per satu. APAA?? TRONTON?!! Eh, bukan bus yah? Jadi, kita dari Sentul ke Lembang naik tronton? Ehem, sekali lagi, beneran niih? Oke deh, beberapa teman sudah langsung menenggak beberapa butir tablet ANTIMO supaya bisa tertidur sepanjang perjalanan. Aku sendiri, juga tidak berani membuka mata selama tronton masih berjalan, maklum agak mabok kalau naik kendaraan besar, hihi… Jadi, maaf ya gak bisa menceritakan bagaimana perjalanan kami angin-anginan naik tronton melalui tol cipularang.

Mataku baru terbuka saat memasuki kawasan Lembang. Setelah melintasi perumahan warga, tampaklah gerbang besar yang bertuliskan “Daerah Latihan Gunung Hutan KOPASSUS”. Jeng, jeng, jeng…. degup jantung sudah bertalu-talu. Tronton kami pun menanjak dengan susah payah, mendaki menuju gunung situ Lembang. Debu bercampur pasir terkadang masuk ke saluran pernapasan kami. Di tengah perjalanan, tiba – tiba ada suara ledakan, “DOR… DOR DOR…!!”

Teman – teman mulai berhamburan keluar dari truk. “AYO SEMUA TURUN!”. Lari.. lari.. lari… aku pun ikut turun dan berlari menuju lapangan, dimana para pelatih Kopassus sudah berdiri disana. Para pelatih Kopassus semuanya ‘menyamar’ alias mencoreng-coreng wajah mereka sehingga tidak bisa dikenali, juga membuat takut peserta (well, at least yang sipil, like me, ha!). Sesaat kemudian kami sudah posisi ‘tiarap’, lalu  mendorong tronton naik ke atas, dan lanjut berlari beriringan sambil bernyanyi tak putus lagu-lagu perjuangan mengitari komplek latihan situ lembang. Sepertinya aku gak bisa mikir saat itu karena terlalu lapar, hahaha…. sudah telat nyampe-nya, belum makan siang, dikagetin dengan suara meriam (eh, mercon yah), lari – lari, push up dulu, keroncongan pula… mana bisa ingat disuruh apa aja xD

“Mulai hari ini, kalian saya sebut PATRIOT. Siapa kalian? PATRIOT!!” pelatih mengomandoi. Mulai saat itu, ke-109 awardee BPRI jadi terbiasa menyebut diri kami PATRIOT :D

Akhirnya saat makan siang pun tiba. Kami duduk di ruang belajar besar yang terdiri dari kursi – kursi kayu panjang dan makanan dalam dus dibagikan.

“10 menit! kalian harus menghabiskan makanan ini dalam waktu 10 menit!” pelatih mewanti-wanti kami. Dengan lahap aku pun langsung menghabiskan sekotak makan itu, juga satu pisang bisa kulahap dalam waktu 3 detik. Seperti lomba makan, sebelum waktunya habis juga aku sudah membuat kotak makan itu habis ludes tak bersisa. Widih, ini emak – emak ganas banget, kelaperan apa doyan? hahahah…

Aku melihat  patriot wanita yang lain sedang kebingungan karena makanannya belum habis, ada yang pura – pura memasukkan ke dalam plastik, ada juga yang sembunyi-sembunyi memberikan sisa makanan ke sampingnya. Alhamdulillah, setiap sesi makan 10 menit ini merupakan waktu yang selalu kunanti semasa pelatihan di KOPASSUS  dan aku selalu berhasil menghabiskan makanku sebelum 10 menit (ibu-ibu rakus).

Sebelum mengikuti aneka kegiatan fisik ala KOPASSUS, tentu kami harus melalui pemeriksaan kesehatan dulu. Selesai isoma, kami dikumpulkan di lapangan lagi dan pelatih berseru, “Semua gadget dikumpulkan. Jangan ada gadget maupun dompet, semua yang ada di kantong dikeluarkan!”. No gadget berarti, tidak ada foto-foto yang bisa kusajikan disini yah.

Upacara pembukaan pelatihan patriot BPRI di Kopassus pun dimulai. Upacara yang benar – benar syahdu sebab ini upacara pertama kaliku di hutan gunung, beratapkan langit biru dan suara lagu Indonesia Raya bergema ke bukit – bukit. Wah….

Tik.. tik.. tik… tetes air hujan perlahan turun. Kami yang berbaris rapi kini malah disuruh berlari. Ya, berlari menuju Situ Lembang untuk melakukan ritual wajib setiap orang yang ikut pelatihan KOPASSUS. Aku penasaran, apa itu ritual wajib? cuci muka dengan air situ Lembang? atau cuci kaki di situ lembang? Semua bergandengan memasuki Situ Lembang. Hujan pun turun semakin deras. Kaki ku sudah terbenam didalam air Situ Lembang. Kupikir kita akan berhenti disana. Belum, ternyata! Kami bergandengan dan terus disuruh maju ke bagian tengah danau. Susah sekali berjalan melalui air yang bercampur dengan lumpur. Kini, air mencapai pinggangku. OMG! Berhenti dong! Huwaaa…. Rasanya sudah pengen mewek aja waktu barisan tetap disuruh maju ke sisi depan Situ Lembang. Eh, ini sebentar lagi tenggelam nih diriku (maklum, tinggi di bawah rata-rata). Dengan gigi bergemeletuk dan  air hujan yang terus mengguyur, akhirnya kami pun berhenti. Fiuh… sisa sedikit kepala yang tidak terbenam di danau.

“Aba – aba 1…2…3…, kalian harus benamkan diri kalian dalam Situ Lembang!” komando itu berseru.

WHAT??!! Iya gak ya? 1.2.3, kompak semua 109 patriot membenamkan diri. EPIK SEKALI!!! (padahal dalam hati nangis-nangis). Kami pun kembali ke permukaan (berasa jadi monster bawah laut) dan segera membersihkan diri di barak. Jika ingat barak IPSC, barak KOPASSUS ini sangat berbeda, hanya ada panggung kayu polos dan kita tidur di sleeping-bag (waw, untunglah ada sleeping bag yah). Pesan dari abang-abang: Selalu tidur dalam kondisi siap dan bersepatu!

Materi selanjutnya adalah makan dan Caraka malam. Menunggu Caraka malam, kami dilatih untuk menyanyikan lagu – lagu perjuangan dan yel-yel ala KOPASSUS. Lucu dan bikin semangat. Caraka Malam, menurut teman – teman sangat seru dan semacam jurig malam, ada hantu-hantunya, pesan yang wajib dibawa, dan juga ‘mandi’ lagi di sungai-sungai. Anyway, karena kondisi kesehatan ku tidak mendukung, akhirnya aku tidak ikut Caraka Malam dan malah menunggu dengan hantunya, hahaha… alias ibu-ibu yang biasa jadi pocong kalau ada Caraka Malam. Kocak dah ceritanya.

 

13 Oktober 2014

Alhamdulillah… Keesokan paginya kondisiku sudah agak baikan dan pukul 04.00 subuh kami mulai dengan acara senam pagi. Bersyukur aku perempuan, kalau aku laki – laki, sudah disuruh buka kaos melawan dinginnya udara Situ Lembang yang brrr….dan olahraga.

Setelah makan pagi, acara dilanjutkan dengan rangkaian outbond. Ada 4 pos dan masing – masing punya tantangan tersendiri, seperti meniti tali, flying fox, mendaki rajutan tali, melempar cakram/pisau ke target, dan berjalan di danau.

Sebelum acara penutupan, ada acara tim building yang menguji kekompakan dan strategi kelompok. Asik juga permainan – permainannya.. lihat aja deh di video Highlight PK BPRI dibawah ini. Singkat kata, kami pulang kembali ke IPSC dengan badan gempor, tentunya masih naik tronton menuju Sentul.

14 Oktober 2014

Hari terakhir sebelum President Lecture besok.

Sesi pertama adalah sesi Review LP dari Shofwa al-banna, Mapres UI yang juga aktivis dan akademisi. Sesi selanjutnya diisi oleh Dr. Arief Munandar mengeni pola pikir pemimpin dan transformasi bangsa, sebuah refleksi untuk Indonesia yang lebih baik.

Sesi terakhir adalah sesi dari Laksamana Dr. Amarullah Okavian, mengenai “Proyeksi kekuatan pertahanan Indonesia dalam Menghadapi Ancaman aspek LAUT”.

“In time of peace, prepare for war” (George Washington)

Intinya pertahanan laut itu harus diperkuat. Pola kepemimpinan jika menggunakan budaya maritim memperhitungkan laut sebagai sumber kehidupan, cinta lingkungan laut, dan berani menjelajah.

Kami selesai hari ini lebih awal karena besok kami harus bersiap – siap menyambut Bapak Presiden SBY yang akan memberikan Presidential lecture di auditorium IPSC. Sore hari sempat dilakukan gladi bersih yang dilakukan oleh Protokoler Presiden, termasuk gladi formasi foto dengan presiden. Alhamdulillah… memang rejeki nyo, kalau orang pendek itu kalau foto selalu ditempatkan paling depan, juga di berisan tengah, hehehe… :p

 

IPS

IPS

15 Oktober 2014

Hari ini tiba juga, hari pelantikan kami menjadi awardee BPRI. Kadang masih terkaget juga, eh sudah selesai ya? Di saat aku mulai merasa senang dengan kebersamaan ini. Di saat gedung FBR IPSC sudah seperti asrama saja, senang sekali jika waktu makan tiba, juga pergi ke lounge untuk coffee break, heheh… Di saat sudah kerasan dengan situasi barak IPSC. Di saat kolaborasi sipil-militer terasa sangat harmonis. Eh, tiba – tiba sudah berakhir PK-nya!

Pagi itu, semua berkostum rapi, kemeja putih dan celana hitam bagi Sipil dan para militer mengenakan seragam PDH khusus bertemu Presiden. Pukul 11.00, president SBY memasuki ruangan auditorium dan memberikan Presidential Lecture-nya. Inilah secara rinci apa saja isi lecture beliau kepada kami – http://chirpstory.com/li/234499

Setelah itu SBY melantik perwakilan dari kami (Raeni dari sipil dan bang Aling dari TNI) sebagai simbol bahwa kami semua hari ini telah dikukuhkan menjadi penerima beasiswa presiden RI angkatan pertama. Alhamdulillah… Aku pun menyematkan pin berlogo BPRI di dadaku, demikian pula yang lain.

Presiden SBY beranjak keluar ruangan untuk berfoto bersama seluruh jajaran mentri, KSAL, KSAD, KSAU dan 109 penerima BPRI. Aku sangat ingat pesan beliau (karena pak SBY saat itu posisinya tepat di depanku) pada kami semua dengan suara yang mantap, tegas, dan penuh kharisma, “Ingat ya… 10..20…30 tahun lagi, Indonesia menunggu bakti kalian!”

Aku tertohok, rasanya seperti diberikan beban berat di bahu. Eugh… Semoga saja kami bisa, benar – benar bisa, mewujudkan apa yang benar – benar beliau impikan. Insya Allah.. Aamiin… :)

Inilah foto kami ber-109 dengan Presiden SBY dan Ibu Ani, para jajaran menteri dan kepala staf militer. Maknyo di sebelah kiri KSAU, heheh…

 

Foto bersama BPRI 1 dan Presiden SBY

Foto bersama BPRI 1 dan Presiden SBY

Setelah rangkaian kegiatan kepresidenan berakhir, kami pun ISOMA dan bercengkrama di auditorium IPSC untuk terakhir kalinya bersama. Lalu, saat kami akan meninggalkan auditorium IPSC untuk menuju barak masing – masing dan pulang, ada kejutan… apa ya?

“Rekan – rekan militer, silahkan keluar terlebih dahulu,” komandonya. Ini adalah kejutan bagi sipil.

Dag.. dig.. dug.. apaan yah? Masa mau ada kejutan macam mercon di KOPASSUS lagi kah? Jeng.. jeng.. jeng… kami pun, yang sipil, keluar dengan berbaris rapi…. mau tahu apa kejutannya? Lihat di video Tribute Perpipsahan BPRI 1 ini ya, mengharukan, hiks.. hiks.. hiks… :)

Perbedaan BPI (LPDP reguler) dengan BPRI mungkin salah satunya adalah di BPRI ini kita benar – benar bisa menghadirkan kolaborasi yang harmonis, sinergis, dan cerdas antara sipil dan militer. Suatu hal yang berbeda buat kami, yang benar – benar awalnya awam soal dunia tersebut. Alhamdulillah… di PK BPRI ini,  aku dipertemukan dengan orang – orang hebat dan menginspirasi dari seluruh Indonesia. Semoga kita benar – benar bisa menjadikan Indonesia Emas (Gemilang?) tahun 2045 (atau lebih cepat). Aamiin….

Terbanglah GARUDA KE UJUNG SEMESTA! (nyanyi lagu Mars BPRI 1 lagi, hahaha…)

[Bagian 1] Program Kepemimpinan Beasiswa Presiden Republik Indonesia (PK-BPRI) 1

Published November 23, 2014 by vanya2v

7 Oktober 2014

Selepas pengumuman kelulusan STA tanggal 6 Oktober 2014 tengah malam, kami yang lolos pagi harinya harus sudah berkumpul dan menjalani PK (Program Kepemimpinan) hari pertama. Dalam rangkaian PK inilah perlengkapan yang wajib kami bawa, seperti kemeja putih, kemeja biru, batik, serta baju olahraga benar – benar digunakan. PK ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 7-15 Oktober 2014. Lama juga yah, hati merasa senang tapi kadang pikiran masih tidak bisa lepas memikirkan my lovely Rhapsody. PK hari pertama diisi dengan kegiatan indoor alias dalam ruangan, seperti seminar dan pembekalan materi, juga diskusi kelompok.

Malam harinya, kami berkumpul di auditorium untuk membahas mengenai tugas angkatan. Tugas yang sudah diberikan adalah:

  • Aku untuk Indonesia

Merupakan tugas kelompok (satu kelompok 10-11 orang, komposisi sipil dan militer), semacam refleksi mengenai kontribusi dan harapan apa bagi kami masing – masing untuk Indonesia di masa depan. Disajikan dalam bentuk video dalam durasi max.5 menit.

  • Implementasi program Leadership Project (LP)

yang harus dikerjakan 11 Oktober 2014. Dalam 1 hari kita diberi waktu untuk melaksanakan program LP yang sudah kita rancang di 3 desa Parung Panjang.

  • Persembahan angkatan

semacam pentas seni, dibagi atas 4 kategori besar: musik, drama, puisi, tari.

  •  LiveTweet

untuk setiap materi yang diberikan tiap harinya saat PK minimal 10 tweets/hari.

  •  Menulis diari di jurnal

bukunya dibagikan saat hari pertama, dengan kaos dan merchandise lain seperti pin, tas, dsb).

  • Ikrar BPRI 1
  • Mars BPRI 1

Nah, dua tugas terakhir ini yang harus jadi dan dibawakan esok pagi. Ikrar dan mars BPRI 1 rencananya harus selesai dan selalu dinyanyikan/baca setelah lagu Indonesia raya tiap harinya, saat pembicara masuk ke dalam auditorium atau saat materi dimulai. Aku bergabung dalam tim pembuat Mars. Sebenarnya aku sudah bikin sebagian melodi dan lirik buat Mars. Tapi sepertinya tidak bagus, heheh…. lagipula ada yang lebih ahli, yaitu Klaus – yang memang lulusan jurusan musik NUS. Jadi, serahkan saja padanya dalam mencipta melodi. Dalam waktu semalaman suntuk, melodi Mars pun sudah tertoreh dengan baik olehnya. Aku, kak Sutarsa, dan Ara tinggal menyelesaikan masalah lirik. Keesokan paginya, saat sarapan, lirik Mars pun jadi:

GARUDA KE UJUNG SEMESTA

Derap langkah panji bangsa

Mengusung semangat Indonesia

Bersinergi demi kesempurnaan

Mengabdi penuh integritas

Tumbuhkan jiwa professional

Dalam melayani masyarakat

Lebarkan cakrawala

Menuju Indonesia Jaya

Reff:

Bangkitkanlah pemimpin masa depan

Membangun negeri tercinta

Dengan beasiswa presiden Indonesia

Terbangkan garuda ke ujung semesta

Pemimpin muda Indonesia

Raihlah mimpi dan citamu

Kita torehkan prasasti

Garuda Emas Indonesia

Ini dia Mars BPRI 1, yang berjudul “Garuda ke Ujung Semesta” . Anyway, lagu yang ku upload ini adalah versi Mars setelah ku aransemen ulang musiknya dan record + mixing (1 bulan setelahnya). Semoga bisa merasakan ke-‘epik’-an kita selama PK di IPSC, hehehe… Enjoy! :)

8 Oktober 2014

Materi pertama adalah sesi Inspiraing leader dari bidang teknologi, yaitu Prof.Dr. Nurul taufiqurrohman. Beliau adalah seorang ahli nano-teknologi Indonesia, pemilik 15 paten, ketua masyarakat nano Indonesia dan direktur Center of Innovation – LIPI.  Jujur, aku sangat suka dengan sepak terjang beliau dalam ilmu dan bisnis. Intinya, memang ilmuwan dan peneliti harus bisa berbisnis! Mengapa? Karena jika mau ilmu hasil penelitian kita teraplikasikan dan membawa lebih banyak manfaat bagi masyarakat, ya salah satu jalannya adalah dengan bisnis. Manfaatnya lebih terasa. Beliau pulang dari Jepang selama 14 tahun memulai karir sebagai peneliti di LIPI dari bawah. Sampai sekarang Pak Nurul memiliki perusahaan – perusahaan yang berbasis penelitian nano-teknologi, antara lain di bidang kosmetik, printer, produk minuman/makanan, dsb.

Satu quote yang menarik adalah: “Lebih baik menjadi PAHLAWAN di negeri sendiri, daripada bekerja sebagai karyawan di negeri orang.”

Well, sedikit banyak setuju deh… Untuk bidang ilmu yang jarang, jika kita menjadi pioneer di Indonesia untuk mengenalkan dan ahli disana, bisa jadi pahlawan bukan? Tapi kayaknya bekerja sementara di negeri orang tak apa juga kali yah, untuk mencuri ilmu, menjalin relasi, dan ‘menabung’, hihihi…. :p . Dari semua pembicara materi selama PK, aku rasa yang paling cocok dan klop dengan pandanganku sih Prof.Nurul ini. Latar belakang dari peneliti yang sukses, tapi sukses juga di bisnis. Inspiring!

Sesi kedua di sore hari adalah sesi Inspiring leader dari relawan kemanusiaan Parung Panjang, yang bernama bu Uun. Beliau banyak bercerita mengenai perjuangannya melawan kasus balita – balita bergizi buruk di desa Parung Panjang. Jika melihat foto, maupun mendengar ceritanya, haduh… Astagfirullah, miris sekali. Berkali – kali aku terenyuh, terharu, juga meringis melihatnya. Ternyata, di Indonesia, di tempat yang sebenarnya relatif dekat dekat ibukota, masih ada ya kasus seperti itu. Di sebuah desa pelosok yang tak ada air, tak ada MCK, mayoritas penduduknya hanya lulus SD, tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan, dan tingkat penganggurannya tinggi sebab lahan yang kering.

Bu Uun terus berupaya untuk membantu dan mendatangi secara aktif  ke warga desa yang membutuhkan. Sayang, aksi beliau ditentang banyak orang, seperti camat, kepala Puskesmas, dsb, yang ingin agar kasus buruk Kab.Bogor ini tidak terdengar ke umum. Namun, Bu Uun tidak gentar dan terus membela rakyat miskin dengan advokasi dan pendekatan – pendekatan lewat media. “Jika bukan  kita, siapa lagi yang mau peduli,” begitu katanya.

9 Oktober 2014

 Sesi Inspiring leader hari ini berasal dari pihak Pemerintah, yaitu Prof. Firmanzah, PhD. Beilau adalah dekan termuda di Indonesia (FE-UI saat 32 tahun, lalu menjadi guru besar termudah saat umur 34 tahun) dan sekarang menjadi staff kepresidenan RI. Anyway, karena perbedaan latar belakang yang membuatku kurang nyambung dengan apa yang diomongin (mayoritas berbicara soal perkembangan ekonomi dunia, GDP, PDB, bla3…), intinya yah untuk menuju Indonesia Gemilang 2045, sebenarnya sangatlah mungkin. Hayok lah…

Sesi kedua adalah Inspiring leader yang berasal dari kubu berbeda, yaitu non-pemerintah atau NGO (Non-government Organization), yaitu Bapak Zainal Abidin dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Beliau juga dikenal dengan @jayteroris. Diantara 95 buku yang sudah ia tulis, satu buku anyarnya adalah “Monyet aja Bisa Nyari Duit”. Dalam sesi yang dibawakan dengan sangat ngocol dan membuat semua peserta penuh tawa, Pak Jay berhasil menyebarkan virus semangat kewirausahaannya, bahwa kita harus selalu menaikkan cita – cita dan mandiri/tangan di atas. Di penghujung sesinya, ada pembagian buku gratis karyanya yang berjudul “Motivactor” – memberi semangat kami untuk terus maju.

Depan baliho PK-BPRI, IPSC

Depan baliho PK-BPRI, IPSC

10 Oktober 2014

Sesi pertama di auditorium adalah sesi internal LPDP mengenai mekanisme pencairan beasiswa. Tentu inilah sesi yang bermanfaat untuk kelanjutan studi kami kelak, hehe…

Sesi selanjutnya adalah Inspiring Leader dari bidang Hukum, yaitu Prof. Jimly al-Shidiqi. Beliau adalah dewan kehormatan KPU, ketua tim reformasi bidang hukum, dan dua kali menjabat sebagai ketua MK tapi mengundurkan diri. Dari semua pembicara, mungkin beliaulah satu-satunya pemateri yang tidak menggunakan slide sama sekali. Waw, tapi benar – benar memikat. Untukku yang benar – benar awam hukum, kalimat – kalimat yang disampaikan sangat berbobot tapi tidak bikin ngantuk karena apa ya… mengena dan kharismatik.

Quotes menarik dari beliau:

Kapan negara bisa beres?

–> “Jika semua tahu hak dan kewajiban masing – masing” (dari Umar bin Khattab)

     “Ambillah hak tidak lebih dari semestinya, dan beri kewajibanmu tidak kurang dari semestinya.”

“Di negara beradab, hukum mengapung di samudra etika”.

–> maksudnya tidak akan sampai ke pulau keadilan jika airnya kering alias etika dan akhlak tidak berfungsi.

Apa resep jika ingin jadi pemimpin

–> “Harus rajin membaca. Membaca buku (referensi) dan kehidupan (praktek).

Ada 5 syarat hakim agar dapat memberi keadilan, ia harus 5 DINGIN: Kepala Dingin – Tangan dingin – Wajah dingin – Hati dingin – Darah dingin. (kalau aku seringnya kedinginan terus nih, makannya gak cocok jadi hakin, hahah…).

11 Oktober 2014

Inilah hari Leadership Project (LP) kami di eksekusi. Pukul 01.00 dini hari, bus sudah bertolak dari IPSC dan perjalanan itu terulang kembali, naik pick up menuju desa Batok. Masing – masing peserta bertugas sesuai tanggung jawabnya. Untuk Desa Batok, kami mengadakan beberapa program di SDN Batok, yaitu:

– Perbaikan infrastrukur (perbaikan perpustakaan, gedung sekolah, pengecatan)

– Penyuluhan orang tua murid

– Kelas Inspirasi bagi seluruh murid SD

– Pelayanan kesehatan

Selain itu, di luar SD ada program penyuluhan entrepreneurship bagi pemberdayaan warga lokal dan pengadaan air bersih. Aku disini berada di kelas penyuluhan orang tua murid dan membantu Dokter Ica memeriksa para pasien secara gratis. Wew, ternyata jadi (asisten) dokter tuh melelahkan juga ya, hehe…

Dalam kelas penyuluhan orang tua murid, aku menemui bahwa bahkan sebenarnya orang tua murid itu sendiri tidak mendukung (baca: tidak percaya kemampuan anaknya) untuk bersekolah lebih tinggi. Apalagi jika anak perempuan, yaudahlah sudah lulus SD ya di rumah saja. Atau ada juga yang takut masuk sekolah negeri, lebih memilih ke Madrasah karena di sekolah negeri (SMP) pernah ada yang ‘kebobolan’ akibat pergaulan. Para orang tua murid ini saat ditanya apa cita – cita untuk anak mereka juga sebagian besar tidak tahu. Setelah didesak – desak akhirnya terucap bahwa ingin anak – anaknya jadi guru. Ya, mayoritas mereka menjawab: guru. Kenapa ya, bukan jadi pengusaha, insinyur, dokter, atau presiden gitu?  Tugas saya disini hanya memberi motivasi dan membuka pikiran mereka saja agar lebih mendukung anak – anaknya untuk terus menuntut ilmu.

Secara keseluruhan, eksekusi program – program LP di kelompok desa Batok ini Alhamdulillah berlangsung dengan lancar. Tengah hari, kami makan siang bersama warga setempat lalu beranjak pulang. Semoga saja ada yang membekas di hati mereka ya… Paling tidak, secara fisik bangunan sudah lebih enak dilihat dan beberapa plafon yang jebol telah diperbaiki.

Nah, inilah video lengkap liputan ala Citizen Journalism mengenai program LP desa Batok. Anyway, ini video aku edit hanya kurang dari 1 jam. Dapat raw video baru subuh dan buru2 ngedit sebelum jam 7 pagi dikumpulkan (dipotong mandi, sarapan, dsb). Jadi, maaf maaf hasilnya kepotong-potong gak karuan karena gak sempat di cek lagi, apalagi ditambah-tambah caption, efek, dsb… kilat soalnya.. xD . Salut untuk Gatya, yang menjadi host di video tersebut (yang empunya video) dan bikin voice-over yang super-kece, awesome!! :)