Selasa, 29 Juli 2008
Jam 3.20 dini hari, take-off dari airport Madinah bersama orang – orang Turkey kebanyakan. Heuu… Sebenarnya agak deg – deg an mau ke Istanbul, karena lihat berita, tadi malam baru ada BOM disana, 2x pula! Hmm… Semoga gak ada apa – apa deh nanti disana. Begitu dikasih makan dalam pesawat langsung kaget, kumaha iye makannya?? Banyak tipe makanan yang dikasih tapi gak ngerti itu apaan dan gimana kombinasikannya. Makanan Turkiye kayaknya, baru pernah lihat ^^
Alhamdulillah landing di Istanbul lancar dan saat kami tiba cuacanya rainy! Wah, padahal lagi summer padahal. Disana kami dijemput tour guide, yang ternyata orang Turkiye namanya Hakkan. My first impression was..nice! =) . Yup, he’s a really nice guy.. Dari airport kami naik kayak mobil travel gitu yang cukup lah buat kita ber-7. Mobil-nya dikendarai oleh Captain (sebutan buat yang nyupirnya). Captain-nya, kalau di Indonesia udah diperebutkan buat jadi bintang sinetron Indo kali yah…Plus rapi banget bajunya dan kinclong sepatunya. Sepintas nampak kayak artis lah.
Jalan – jalan di Istanbul ini lumayan bersih dan nampak masih ada bangunan – bangunan peninggalan zaman dahulu, seperti terowongan yang dari batu – batu gitu, gedung bersejarah banyak juga, dsb. Penduduk di Istanbul sendiri ternyata 20 juta orang, dari keseluruhan penduduk Turkiye 80 juta orang, hoo… banyak juga ya. Di Turkiye 90% muslim, tapi karena negara sekuler (huh, gara – gara sih Attaturk itu!) jadinya yah hampir – hampir mirip kayak Indonesia =P. Tour guide bilang, di Istanbul ada sekitar 2.000 masjid, 100-an gereja dan 100-an sinagog. Wow… pantesan, baru aja ngeliat masjid, eh di depan udah ada masjid lagi.
——————————————————————–
PREFACE — Sejarah Istanbul, Turkey
Pemerintahan Usmaniyah di Turki, rentang 1517 – 1923 M merupakan periode terpanjang dalam sejarah Islam (5 abad lebih bo’). Khalifaj Abbasiyah di Kairo menyerahkan kekhalifahannya pada tahun 1517 M secara resmi pada Utsmaniyah. Dulu Anatolia merupakan kerajaan dibawah kaisar Byzantium (Romawi) sebelum ditaklukan oleh Islam (karena itu di Turki kan ada bekas – bekas peninggalannya seperti kuda Troy, Ephesus, dsb).
Daerah kekuasaan Utsmaniyah dulu mencapai Beogard, sebagian besar negeri – negeri Arab, Hijaz, Mesir, Asia, Eropa, sampai Wina ibukota Austria. Khilafah Utsmaniyah dipimpin oleh banyak Sultan dan pemerintahannya telah menguasai area kira – kira 20 juta km persegi.
Konstantinopel (sekarang Istanbul = kota kesejahteraan artinya) berhasil ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II (AL- Fatih) tahun 1453 M saat berumur 21 tahun! dan Kaisar Byzantium dibunuh pada perang tersebut. Keberhasilan ini sudah disebutkan dalam hadits Rasulullah saw, “Sungguh Konstantinopel benar – benar akan ditaklukan, maka sebaik – baik Amir (penguasa) adalah Amir-nya, dan sebaik – baik pasukan dalah pasukan itu.”
Ternyata, menurut sejarah, Sultan Mehmed II semenjak baligh tidak pernah meninggalakn sholat fardu, sholat rawatib dan sholat tahajud. Ini ceritanya : “Pada hari Jum’at pertama di Konstantinopel, ketika diadakan shalat Jum’at untuk pertama kalinya, terjadi kebingungan dalam menentukan siapa yang menjadi imam. Sultan pun dengan lantang meminta seluruh tentaranya berdiri dan mengajukan pertanyaan: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat fardhu silakan duduk!” Tidak ada seorang pun yang duduk. Ini berarti seluruh tentara Sultan sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu.
Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggatkan shalat sunat rawatib silakan duduk!” Sebagian tentaranya masih tegak berdiri dan sebagian lagi duduk. Jadi sebagian tentara sultan sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat sunat rawatib.
Kemudian Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud silakan duduk!” Kali ini seluruh tentara duduk. Yang tinggal berdiri hanya Sultan sendiri. Ternyata sejak usia baligh Sultan belum pernah meninggalkan shalat tahajud sehingga beliaulah yang paling pantas menjadi imam shalat Jum’at.” – taken from //easternearth.wordpress
Selepas breakfast, karena cuaca masih hujan akhirnya kami beranjak ke tujuan pertama saja yang di ruang tertutup, yaitu AYA SOFIA!! Boleh cerita pendahuluannya dulu? Sekarang Aya Sofia merupakan museum sejak tahun 1935 dan bisa dimasuki siapa saja, dulunya adalah monumen hebat dari Byzatine Empire. Pertama kali dibuat sebagai gereja dan diubah menjadi masjid setelah penaklukan Islam oleh Turki pada tahun 1453. Keunikan dari Aya Sofia ini adalah masih terdapatnya karakteristik antara gereja dan masjid.
Saat memasuki area Aya Sofia, langsung seperti masuk ke zaman dahulu. Tamannya masih terlihat kuno dengan reruntuhan – reruntuhan Aya Sofia saat era Theodosius II. When we entered the gate of Aya Sofia, ternyata dalamnya gedhe dan tinggi dan loas. Terdapat empat lingkaran gede yang bertulisakan diantaranya, Allah SWT dan Muhammad SAW yang diletakkan di masing – masing keempat sudut bangunan ini. Kubah-nya bagus berhiaskan tulisan ayat Qur’an.
Karena dulunya Aya Sofia adalah gereja, jadinya banyak hiasan – hiasan mozaik karakter. Tapi gambar – gambar ini sebagian besar sudah tidak utuh karena memang dalam Islam tidak boleh ada gambar figur dalam masjid, jadinya dulu ada yang dihapus dan ditutup.
Main hall – nya unik, aku paling suka kaca – kaca di dekat mihrab, bagus banget pemandangannya. Saat ada sinar matahari masuk, kesannya pantulannya artistik. Ada juga tempat lilin dari kendi marmer yang gede euy dan mimbar buat imam. Kami juga melihat perpustakaan Sultan Mahmud I, dan tempat baca Qur’an-nya. Sayangnya buku – buku di perpustakaan ini sudah raib hilang entah kemana, hix…
Lalu, menuju lantai atas. Wah, menaiki lorong yang menanjak, serunya.. Lorong itu tidak terlalu luas dan jalannya berputar – putar menanjak tanpa anak tangga, agak remang – remang. Di lantai atas terdapat galeri, lukisan – lukisan di Aya Sofia dan kebanyakan tentang penjelasan mozaik – mozaik.
Setelah melihat Aya Sofia, kami ke BLUE MOSQUE atau Sultan Ahmed Mosque yang letaknya dekat bersebrangan dengan Aya Sofia. Wahh… dari jauh aja Masya Allah, udah kelihatan indah dengan enam menara tegak dan langit yang (sudah) cerah siang itu. Bagusnya…
Masuk masjid harus wudhu dulu, menutup aurat, lepas alas kaki tentunya, dan sholat tahiyatul masjid. Hmm… tempat wudhu-nya aja masih dipertahankan dari zaman dulu, kerannya dari emas dengan bentuk yang khas. Saat masuk Blue Mosque, kami jadi ngeh, kenapa masjid ini dinamakan Blue Mosque. Yup, desain interiornya dipenuhi dengan hiasan – hiasan keramik yang berwarna biru!! Bagus..dan itu hand-made semua! Subhanallah..
Lampu – lampu digantung dari langit – langit yang tinggi banget sehingga jaraknya jadi dekat dengan lantai masjid dan berbentuk melingkar. Indah sekali.. Marmer semua yang digunakan mulai untuk eksterior maupun interior, dan itu bisa diukir – ukir dengan cantik. Kubah masjid sangat khas, seperti bertumpuk – tumpuk. Hiasan di kubahnya juga tidak kalah cantiknya dengan tulisan ayat – ayat Qur’an. Pasti zaman dahulu ilmu arsitekturnya udah canggih yah..
Oia, ada cerita menarik, kenapa Blue Mosque ini memiliki 6 menara? Jadi, dulu arsiteknya dipanggil Sultan Ahmet disuruh buat masjid-nya dengan menara emas. Tetapi si arsiteknya salah dengar/salah nangkep maksud si Sultan, karena dalam bahasa Turkiye : ‘emas’ dan ‘enam’ itu hampir sama bunyi-nya. Sayangnya, si arsitek gak bisa dapat kesempatan lagi untuk bertanya pada Sultan. Jadi saja, sesuai persepsi dia akhirnya dibuatlah masjid dengan 6 menara! Tapi apa mau dikata, masjidnya sudah jadi dan gak bisa diubah lagi.. Sultan juga berbaik hati menerimanya =)
Dari Blue Mosque, beranjak ke Hippodrome yang letaknya antara Aya Sophia dan Blue Mosque. Apa itu Hippodrome? Sebenarnya gak terlalu ngerti sih pas dijelasin, hehe… Jadi di kawasan Hippodrom itu ada beberapa monumen, diantaranya Obelisk yang berbatu – batu, pilar Serpent, dan Obelisk dari Thutmois III. Obelisk yang terakhir disebut ini dibawa dari Mesir dan ada relief – relief yang menggambarkan tentang balapan berhadiah saat itu. Obelisk yang berbatu – batu sebenarnya lebih tinggi dari yang sekarang, tetapi karena perang jadi terpangkas.
Setelah tour ke 3 objek, kita lunch… dengan menu soup rasa mint sebagai appetizer, main course kebab dan salad tanpa dressing, dessert semangka – yang masih terasa agak kurang familiar bagi lidah orang Indonesia. Hehehe, gak ada nasi, tapi untung ada garam merica.. =P
After lunch, akhirnya bisa istirahat di hotel! Akhirnya tidur, karena 2 malam kemarin hampir gak ada waktu buat tidur… Alhamdulillah… Semoga besok lebih seru lagi =D











5 responses so far ↓
dina aditya // September 17, 2008 at 2:35 am |
hi Nyo nyo..ur story bout istanbul is very interesting..at least gimme some outlook about how istanbul is..anyway..could u tell me where did u stay there? i mean ur hotel’s name and location?
thanks b4
Edward // April 29, 2009 at 9:31 am |
assalamu alaikum..
eh di hagia sophia bener2 ga boleh dipake buat sholat lagi ya?
vanya2v // April 29, 2009 at 12:43 pm |
hehe..setauku hagia sophia skrg ud jadi ‘museum’.. klo solat di situ yah gapapa, tp maksudnya uda bkn sbg masjid lagi fungsinya
Edward // May 3, 2009 at 3:01 pm |
thank you for the information
but let me ask you again ok!
biaya kesono brp duit ya ?(hehe)
ane pengen mampir ke blue mosque
Kang Guru // September 2, 2009 at 9:14 am |
Neng, abdi oge munggaran ka Istanbul. Mung sapuluh dinten. Endah pisan euy. Iraha di tatar sunda aya bangunan anu alus sapertos di Istanbul nya????